Selasa, Maret 11, 2014

Mikael Mengajar, When The Children Smile




Setelah sekian bulan vakum, akhirnya ada  kesempatan untuk nulis-nulis lagi. Tiga bulan vakum nulis dan tidak di-publish, rasanya agak sebel juga. Karena hal yang membuat vakum itu gara-gara laptop rusak dan harus diperbaiki. Banyak kegiatan yang akhirnya tidak terdokumentasikan dalam bentuk tulisan. Mulai dari libur Natal di Madura (tepatnya di daerah warm river alias Kalianget, yg memakan waktu perjalanan 14 jam dari Solo, kesel tenan…), rafting alias arung jeram bersama temen-temen panitia PPM (Piala Persahabatan Mikael) di Sungai Elo Magelang, Erupsi Gunung Kelud yang dashyat di hari Valentine, sampai-sampai derah Jawa Barat yag jaraknya ratusan kilometer pun terkena dampaknya,Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) untuk pengurus OSIS yang baru, dan banyak lagi kisah-kisah lain yang ndak sempat terdokumentasikan dalam tulisan dan di-publish, untuk sekedar dibagikan sebagai bacaan ringan. 

Kali ini tulisan saya masih ndak jauh-jauh dari dunia pendidikan, tepatnya yang baru dialami siswa-siswa kelas XI dari tanggal 6-9 Maret. Berangkat dari sebuah keprihatinan, dan berakhir dengan kesan yang mendalam, membuat cuilan kisah-kisah ini menjadi menarik dan recommended untuk dibagikan. Jika ada yang mau mengembangkan dan mengikuti modelnya, silahkan saja. 

Berangkat dari sebuah keprihatinan, bahwa orang teknik (mesin) itu cenderung kaku dan asosial. Dunia teknik mesin itu kalau boleh jujur, adalah dunia yang brengsek. Brengsek dalam artian semuanya serba teratur dan membatasi orang untuk kreatif. Dari cara menggambar sampai mengukur saja semua serba diatur. Maka tanpa disadari, dunia teknik mesin seperti menghasilkan “robot-robot kecil”, yang semuanya serba diatur oleh sebuah sistem yang cenderung menghasilkan mahkluk-mahkluk yang kaku dan kurang peduli kepada lingkungannya, karena banyak hal dilakukan secara individual. Apalagi dalam berkegiatan, interaksi mereka lebih banyak dengan benda kerja yang nota bene adalah benda mati. Hal inilah yang menjadi kelemahan (dan tentunya masukan juga) bagi dunia pendidikan teknik, khususnya teknik mesin. 

Padahal di SMK Mikael sendiri berkehendak untuk menjadikan siswa-siswanya menjadi Man for Others. Jika mengacu ke kurikulum yang ada, cita-cita itu bisa saja tercapai, tetapi tidak mudah. Karena dengan segala aturan dan keteraturan, siswa cenderung akan menelan tanpa berpikir kritis. Nah, ini yang berbahaya, karena jika sudah jadi kebiasaan atau habitus, siswa tidak akan mendapatkan makna dari kegiatan belajarnya. Mereka akan mendapatkan pengalaman belajar tetapi tidak mendapatkan maknanya, sehingga mereka tidak tahu untuk tujuan apa mereka belajar. Disinilah bahayanya. Maka perlu ada perlakuan (treatment) yang mau tidak mau membuat siswa mendapatkan pengalaman sekaligus makna, dan hal ini tidak cukup hanya dilakukan berdasarkan kurikulum yang disiapkan pemerintah. Tinggal pilih saja, kalau ikut pemerintah berarti hanya mau jadi ordinary, tapi jika mau jadi extraordinary, ya harus ada yang beda. 

Dari latar belakang dan fenomena tersebut, dibuatlah kegiatan pendampingan siswa untuk siswa kelas XI dengan tujuan untuk memperbaiki kemampuan bersosialisasi siswa. Kalau dilihat namanya, Latihan Kepemimpinan Tingkat Madya), wah ini pemerintah banget. Tetapi untuk isinya, coba dikemas berbeda, dibuat extraordinary dong. Di kelas X mereka sudah pernah mendapatkan LKTD (Latihan Kepemimpinan Tingkat Dasar) yang berfokus pada self leadership, sekarang fokusnya ada di social leadership


Tahun kemarin sudah dicoba LKTM dengan fokus di social leadership, tetapi jujur saja hasilnya masih mengecewakan. Mengirimkan siswa dengan tinggal bersama masyarakat (live in) di desa, ternyata tak banyak yang bisa didapatkan. Seneng sih, bisa tinggal bersama masyarakat desa, tetapi bagi siswa yang berasal dari desa, ini ndak ada bedanya dengan pulang kampung. Begitu juga harapan untuk melibatkan siswa dalam kegiatan bermasyarakat di desa, kecil sekali pengaruhnya. Masyarakat desa di Jawa yang masih lugu, mempunyai kecenderungan untuk melayani tamu sebaik-baiknya. Melayani dalam artian menjadi tuan rumah yang baik. Harapan untuk melibatkan siswa dalam kegiatan masyarakat sehari-hari tidak tercapai. Yang ada malah siswa menjadi lebih nyaman dibandingkan rutinitasnya sehari-hari. 


Akhirnya tahun ini kegiatan LKTM dirombak total konsepnya. Kali ini siswa setengah dipaksa untuk menjadi pengajar di sekolah-sekolah. Diharapkan kegiatan ini lebih baik daripada sekedar “pindah tidur” dari kota ke desa. Dengan menjadi pengajar, mereka sedikit dipaksa untuk bersosialisasi dengan guru dan siswa. Sedangkan untuk soal tempat tinggal, siswa dititipkan bersama keluarga guru-guru yang disinggahi. Dengan tinggal bersama keluarga guru, diharapkan ada komunikasi yang bersifat edukatif. 


Untuk penempatan siswa, SMK Mikael memilih untuk bekerjasama dengan Yayasan Kanisius Cabang Surakarta. Yayasan Kanisius sendiri mungkin merupakan yayasan pendidikan yang tertua di Jawa Tengah. Yayasan ini mengelola sekolah-sekolah dari TK sampai SMA. Untuk Yayasan Kanisius Surakarta, wilayahnya mencakup di eks Karesidenan Surakarta  (Surakarta, Sukoharjo, Klaten, Boyolali, Sragen, Karanganyar, Wonogiri). Dengan berbagai pertimbangan, siswa SMK Mikael akhirnya dikirim untuk mengajar di TK dan SD. Dalam dialog sebenarnya dibatasi untuk SD, hanya di kelas 1 dan 2, karena pada masa-masa itulah pembentukan karakter seseorang benar-benar dibentuk. Di masa-masa inilah ditanamkan hal-hal dasar pada seseorang yang kelak digunakan untuk menjadi bekal hidupnya.


Setelah dipetakan kembali, TK dan SD yang dikelola oleh Yayasan Kanisius Surakarta kemudian dibagi-bagi dalam zona-zona berdasarkan daerah. Untuk Kota Solo ada di daerah Keprabon, Purbayan, Semanggi, Sangkrah, Serengan, Sorogenen, dan Pucangsawit. Untuk daerah Karanganyar ada di Kedawung dan Karangbangun (keduanya ada di Kecamatan Jumapolo, di “pelosok” Karanganyar). Untuk daerah Klaten ada di Delanggu (kampung halaman Dono Warkop), Mlese, Sidowayah, Murukan (Wedi), dan Bayat. Sedangkan untuk daerah Wonogiri, walaupun jumlah sekolahnya paling sedikit, tetapi letaknya menyebar, dari Wonogiri, Baturetno, Watuagung, dan Serenan (Giriwoyo). Untuk teknisnya, siswa yang berasal dari desa atau luar kota Solo akan ditempatkan di kota, sedangkan yang berasal dari kota akan ditempatkan di desa. Diharapkan mereka akan mendapatkan pengalaman baru dari lingkungan yang baru pula.  


Satu hal yang saya lihat. Kanisius sudah melayani warga akan akses pendidikan, selain sejak jaman dulu, tetapi juga mencakup ke masyarakat yang tinggal di pelosok. Untuk saat ini, sekolah-sekolah Kanisius sepertinya menjadi suatu “spesies langka” dan patut dilestarikan. Pada masa jayanya, sekolah Kanisius adalah favorit masyarakat yang membutuhkan akses pendidikan, tanpa memandang bahwa sekolah Kanisius adalah Sekolah Katolik. Masyarakat yang saat itu masih lugu, tidak ragu untuk menyekolahkan anak-anaknya ke Kanisius tanpa rasa kuatir akan di-Kristenisasi. Namun sekarang kondisinya berubah. Dengan menjamurnya sekolah-sekolah negeri dan sekolah-sekolah swasta favorit, Kanisius kehilangan peminat. Belum lagi adanya isu Kristenisasi, membuat Kanisius semakin ditinggalkan masyarakat yang (ngakunya) semakin cerdas ini. 



Dari semua sekolah Kanisius yang akan ditempati siswa Mikael, hanya di Purbayan dan Keprabon saja yang masih diminati oleh masayarakat dari golongan mampu. Selebihnya didominasi oleh siswa-siswa dari golongan marginal, masyarakat yang mungkin mendaftarkan anak-anaknya di Kanisius karena sudah tidak ada pilihan lain, daripada tidak bersekolah. Inilah semangat yang saya lihat pada guru-guru di sekolah-sekolah Kanisius itu. Semangat untuk menjadi martir. Semangat untuk mengorbankan diri, mengorbankan nama besar, untuk melayani anak-anak dari kaum tersisih akan kebutuhan pendidikan. Nah,realitas ini yang harus dilihat dan dipelajari siswa-siswa Mikael. Maka ndak salah kalau mereka dititipkan pada keluarga guru-guru dengan semangat luar biasa ini. 


Tibalah saatnya siswa-siswa ini disebar ke sekolah-sekolah Kanisius. Sampai hari H, Kamis 6 Maret 2014, tidak ada siswa yang tahu akan dikirimkan ke sekolah mana. Semua dilakukan dengan pendekatan pengelolaan emosi. Mereka hanya diberi surat untuk kepala sekolahbeserta alamatnya, dan dibekali dengan uang yang mepet untuk naik angkutan umum dan sekedar makan di perjalanan. Mereka ditantang untuk dapat mencapai tujuan. Tidak ada peta, tidak ada contact person, hanya ada alamat. Dari sini mereka ditantang untuk bersosialisasi, untuk berinteraksi dengan masyarakat langsung dengan bertanya. Model seperti ini dilaksanakan bagi siswa-siswa yang ditempatkan di derah Karanganyar, Wonogiri, dan Klaten (kecuali Delanggu). 

Bagi mereka yang ditempatkan di Delanggu, mereka harus berjalan kaki kurang lebih 15 kilometer, hanya dibekali masing-masing uang Rp. 6.000,- untuk makan siang selama perjalanan. Dilarang naik angkutan umum. Jika air minum mereka habis dilarang beli di warung, harus minta kepada warga sekitar. Dari hal-hal ekstrim ini social leadership ditanamkan. Bagi yang ditugaskan di dalam Kota semua diwajibkan berjalan kaki, menempuh jarak antara 8-12 kilometer melewati beberapa check point di Stadion Manahan, Plaza Sriwedari, dan Gereja Purbayan, sebelum dikirimkan ke sekolah-sekolah. Dengan catatan, perjalanan dilakukan di siang hari dengan panas yang luar biasa menyengat. 

Jumat dan Sabtu, 7 & 8 Maret 2014, siswa-siswa tersebut “dikaryakan” di TK & SD Kanisius yang ditunjuk. Tidak hanya membantu mengajar saat jam regular, mereka juga dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan lain seperti mengisi jam belajar tambahan, memperbaiki alat-alat yang rusak, dll. Intinya SMK Mikael menitipkan siswanya ke TK & SD Kanisius. Untuk teknis kegiatannya, semuanya diserahkan kepada sekolah yang ditempati. Setiap hari pula, ada tim dari SMK Mikael yang mengunjungi siswa-siswa tersebut untuk visitasi. Sebagian siswa tampak senang dan excited, karena mereka belum pernah mengalami pengalaman ini sebelumnya. Ternyata tidak mudah mengajar siswa TK & SD. Hari Jumat saya mendapat tugas mengunjungi siswa di daerah Klaten, dan Sabtunya di daerah Wonogiri. Mengamati siswa mengasuh anak TK, memberikan tambahan (sampai ada yang memberikan pelajaran tambahan menulis huruf Jawa), menginventaris barang-barang sekolah, bermain bola bersama anak-anak, sampai mendampingi siswa belajar drum band.  Sekalian memberikan uang untuk pulang ke Solo yang jumlahnya mepet juga. 







Minggu, 9 Maret 2014, semua peserta kembali ke SMK Mikael, dan acara ditutup dengan misa dan makan bersama. Saat misa, setiap perwakilan diminta menceritakan kesan mereka. Sebagian besar merespon positif kegiatan Mikael Mengajar ini. Rombongan dari Delanggu datang terlambat karena sebenarnya mereka diminta kepala sekolah untuk tidak pulang hari itu. Rombongan dari Jumapolo membawa oleh-oleh rambutan dan durian, Rombongan Purbayan Solo yang walaupun sudah diberi uang transport tetapi memilih untuk berjalan kaki menembus car free day. Dan masih banyak cerita lain yang berkesan bagi mereka. Tetapi kesimpulannya kegiatan ini cukup bermakna dan target social leadership secara umum dapat tercapai. Kedua belah pihak, Kanisius dan Mikael, sama-sama mendapatkan pengalaman baru, sekaligus dapat belajar bersama. Beberapa siswa mengatakan, waktunya kurang lama. Tetapi tak apa lah, daripada jika terlalu lama malah akan menimbulkan rasa jenuh (di samping itu kalau terlalu lama biayanya pasti akan bertambah, hehehe…).


Sebagai penutup tulisan ini, sekaligus refleksi tentang kegiatan “Mikael Mengajar”, berikut ini ada petikan puisi dari Dorothy Law Nolte

Jika anak dibesarkan dengan celaan, dia belajar memaki

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan/kekerasan, dia belajar membenci

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, dia belajar rendah diri

Jika anak dibesarkan dengan hinaan, dia belajar menyesali diri

Jika anak dibesarkan dengan toleransi, dia belajar menahan diri

Jika anak dibesarkan dengan pujian, dia belajar menghargai

Jika anak dibesarkan dengan dorongan, dia belajar percaya diri

Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, dia belajar keadilan

Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, dia belajar menaruh kepercayaan

Jika anak dibesarkan dengan dukungan, dia belajar menyenangi dirinya

Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, dia pun belajar menemukan cinta dalam kehidupan

Saat kusadari ternyata semuanya terasa sangat bermakna...
Salam

 

Wong Sangar 

Senin, November 25, 2013

Guru, Antara Suara Hati dan Sertifikasi




Dalam sebuah perjalanan dengan bus, saya sempat mencuri-curi dengar percakapan dua orang muda di belakang saya. Mereka adalah pelajar dan ternyata sedang bergosip atau ngrasani gurunya. Mereka menganggap dengan adanya fenomena “sertifikasi” bagi kaum guru sekarang ini justru tidak membuat para guru semakin produktif, tetapi justru membuat kaum guru semakin konsumtif. Singkatnya, untuk mendapatkan tunjangan sertifikasi tersebut, guru yang “bersertifikat” harus memenuhi persyaratan tertentu, salah satunya adalah minimal mengajar selama 24 jam dalam satu minggu. Jika tidak memenuhi jumlah tersebut, tunjangan sertifikasi urung diberikan. Dan untuk memenuhinya, terkadang mereka harus mengajar di sekolah lain, dan berharap tunjangannya segera dapat dicairkan. 


Fenomena ini kemudian merefleksikan saya pada profesi saya saat ini, seorang guru swasta yang belum “sertifikasi”, tentang pandangan umum masyarakat akan profesi guru. Profesi guru yang ada saat itu di pandangan masyarakat adalah profesi kelas dua, profesi yang tidak bergengsi. Tidak seperti profesi-profesi lain saat itu seperti polisi, tentara, dokter, atau pegawai bank, masyarakat lebih memandang dengan sebelah mata terhadap profesi guru. Bahkan dalam sebuah kelakar di kalangan masyarakat saat itu, jika ada seseorang yang punya anak perempuan yang susah diatur alias ndableg, maka Si Bapak akan mengancam puterinya dengan menjodohannya dengan seorang guru. 

Di dalam dunia hiburan (yang terkadang mengambil dari kisah nyata) pun, sindiran tentang profesi guru juga ditampilkan. Dalam Film Gie karya Riri Reza, yang diambil dari buku karya Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, juga ditampilkan cuilan adegan tentang profesi guru. Soe Hok Gie, yang saat itu tidak terima karena nilai ulangannya dikurangi oleh gurunya, hanya karena perbedaan pendapat diantara mereka, berniat untuk membuntuti Sang Guru saat pulang sekolah. Gie dan kawan-kawannya berniat untuk mencegat gurunya, kemudian menyelesaikan masalah mereka dengan otot. Tetapi niatnya sirna, ketika melihat kondisi keluarga gurunya. Pria berpakaian putih-putih necis alias parlente tersebut ternyata tinggal di pemukiman kumuh. Dan ketika sampai di rumah, pria tersebut disambut oleh anak istrinya yang berpakaian lusuh. 

Melihat kejadian ini, niat barbar Gie seketika lenyap. Begitu juga dalam Film “Get Married”  yang dibintangi oleh Nirina Zubir. Sosok guru yang akan dijodohkan untuknya (memerankan tokoh Maemunah yang tomboy), digambarkan sebagai pria culun berkacamata tebal, berbaju korpri, dan bermotor butut. Itu baru dari film, dari lagu-lagu pada jaman itu yang sarat kritik sosial, sosok guru diwakili oleh lagu “Umar Bakri” yang masih banyak diingat orang sampai sekarang. 


Intinya, kaum guru dipandang sebagai kaum intelek yang harus berpenampilan necis, bertugas berat karena harus mencerdaskan anak orang lain (sampai-sampai anaknya sendiri malah tidak sepintar murid orang tuanya), namun hidupnya susah karena gajinya kecil, serta kesejahteraannya kurang diperhatikan oleh pemerintah. Dan memang kenyataannya memang demikian, sehingga kaum guru sering disebut sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa” sekaligus “pahlawan tanpa tanda-tanda”. Jelas saja disebut demikian, karena di dada mereka tidak akan pernah tersemat tanda kecakapan seperti wing para, komando, ataupun airborne. 

Namun kaum guru patut berterima kasih kepada sosok Presiden keempat RI, K.H. Abdurahman Wahid, alias Gus Dur. Pada era Gus Dur, kesejahteraan guru ditingkatkan, sehingga mereka tidak lagi dipandang sebagai warga kelas dua. Dan harus diakui juga (walaupun berat untuk saya kemukakan, tetapi ini adalah fakta), justru di era Presiden SBY derajat kaum guru meningkat berlipat ganda. Karena sejak tahun 2007 mulai diterapkan sistem sertifikasi (yang sebagian saya kutip di awal tulisan ini), para guru yang sebelumnya hanya bisa naik sepeda angin, atau mentok-mentoknya sepeda motor kreditan, sekarang bisa mendapatkan mobil  pribadi yang lebih layak, yang tidak harus membuat mereka mantolan atau ngiyup saat kehujanan. Tetapi syarat-syaratnya tidak mudah (seperti saya kemukkan sebagian di awal tulisan ini).
Akibatnya ternyata luar biasa. Kaum guru sekarang menjadi sederajat dengan dokter. Parameternya sederhana, di universitas-universitas, fakultas keguruan yang dulu menjadi tempat “buangan” justru sekarang menjadi fakultas favorit. Pendaftar di FKIP tingkat persaingannya justru lebih berat disbanding FK. Semua ini gara-gara satu hal, sertifikasi. Dan orang boleh berbangga jika saat ini punya menantu guru. Orang tua berbondong-bondong mendafarkan anaknya untuk kuliah menjadi guru, dengan harapan kelak saat lulus bisa langsung kerja dan dapat tunjangan sertifikasi.
Sistem ini memang baik, tetapi tak semuanya membawa dampak yang baik. Polarisasi di kalangan kaum guru pun semakin meruncing. Jika dulu polarisasi di kalangan guru hanya sebatas di guru negeri-swasta, atau guru tetap-honorer, sekarang bertambah lagi menjadi guru sertifikasi-belum sertifikasi. Yang jadi korban dari semuanya ini pastinya siswa. Karena demi mendapatkan sertifikasi, guru-guru jaman sekarang cenderung mengajar asal-asalan. Sehingga jika ditanya kepada siswa, mereka cenderung untuk lebih memilih diajar oleh guru yang belum bersertifikasi. Karena dalam pandangan para siswa, para guru ini masih “suci”, belum terkontaminasi. Mereka masih menggunakan suara hati dalam mengajar, karena siswa bukanlah benda mati yang dapat diperlakukan dengan sesuka hati.
Para siswa yang haus dan dinamis ini tidak butuh jam atau durasi yang cenderung kaku. Jiwa-jiwa merdeka mereka lebih membutuhkan sentuhan dan dukungan, untuk persiapan perjalanan hidup mereka yang masih sangat panjang. Seperti kata peribahasa latin kuno, Non scholae sed vitae discimus, belajar bukan untuk sekolah tetapi untuk hidup.
Tulisan ini hanyalah sebuah kritikan sekaligus ajakan bagi para guru. Mari kita gunakan suara hati kita, daripada sertifikasi kita…..
Jadi guru jujur berbakti memang makan hati…
Terpudjilah wahai engkau, ibu-bapak guru. Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku…

Salam
 
Wong Sangar 



Rabu, Oktober 30, 2013

Inggit Garnasih, Batu Karang yang dilupakan....




Sosok Sukarno bagi sebagaian besar orang Indonesia (termasuk saya di dalamnya) adalah sosok yang berkarakter. Sosok yang mempunyai visi sekaligus keberanian. Di tengah tekanan pemerintah Kolonial Hindia Belanda, Sukarno berani melawan, yang membuatnya menjadi langganan, keluar masuk penjara. Tetapi pada akhirnya, Sukarno menjadi Presiden Indonesia yang pertama, bersama rakyat Indonesia pada masanya, Sukarno mendampingi rakyat memasuki gerbang baru, dari gerbang orang-orang terjajah menuju gerbang kemerdekaan. 


Walaupun demikian, Sukarno tetaplah manusia biasa, yang tak bisa luput dari kekurangan dan kesalahan. Dalam hal memimpin sebuah negara baru, Sukarno mungkin masih bisa dikatakan berhasil, paling tidak sampai sebelum masa demokrasi terpimpin, setelah memasuki masa itu, nampak lah sikap otoriternya, khas seorang pemimpin yang berkarakter koleris. Namun dalam kehidupan cintanya, tak selamanya Sukarno berhasil. Setelah menjadi presiden RI yang pertama, Sukarno mulai menampakkan karakter ala raja-raja Jawa, mempunyai banyak istri. Yang paling kita kenal mungkin adalah Fatmawati, yang ketika menjelang proklamasi kemerdekaan menjahit bendera pusaka dengan tangannya, dan kemudian menjadi ibu dari anak-anak Sukarno yang selama ini kita kenal : Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati, dan Guruh. 

Tetapi sejatinya, Fatmawati bukanlah istri pertama Sukarno. Istri pertama Sukarno bernama Utari, putri tokoh Sarikat Islam (SI) HOS Tjokroaminoto, dimana pada masa mudanya Sukarno pernah indekos di rumah Tjokro. Istri keduanya adalah Inggit Garnasih, dikenal Sukarno semasa menjadi mahasiswa THS (Technise Hooge School) Bandung, yang sekarang dikenal dengan nama ITB. Fatmawati adalah istri yang ketiga, disusul Hartini, Haryati, Ratna Sari Dewi, Yurike Sanger, Kartini Manoppo, dan yang terakhir bernama Heldy. 

Dari beberapa wanita tersebut, yang lebih banyak dikenal memang Fatmawati, tetapi sejatinya, diantara wanita-wanita tersebut, yang turut membentuk karakter Sukarno sebagai seorang pemimpin adalah Inggit Garnasih. Peranan Inggit tidak begitu tampak, karena ia mendampingi Sukarno di masa-masa susah, saat Sukarno mengalami masa-masa dikejar-kejar dan menjadi orang buangan. Kisah detail mengenai perjalanan cinta Sukarno-Inggit dapat dibaca di novel “Kuantar ke Gerbang” karya Ramadhan K.H (ayah drummer terkenal, Gilang Ramadhan). Walaupun dikemas dalam bentuk novel, tetapi kisah di dalamnya adalah kisah nyata, berdasarkan wawancara dengan Inggit sebagai tokoh sentral, dan Ratna Djuami Asmara Hadi dan Kartika Uteh Riza Yahya, anak-anak angkat Sukarno-Inggit. 


Perkenalan Sukarno-Inggit terjadi setelah Tjokroaminoto mengirim surat kepada Haji Sanusi, seorang tokoh SI di Bandung, bahwa ia akan mengirimkan menantunya, Sukarno, untuk belajar di THS Bandung, dan meminta agar Sanusi mencarikan sebuah pemondokan bagi Sukarno. Setelah tidak berhasil mencarikan pemondokan di Bandung, akhirnya Sanusi dan Istrinya, Inggit Garnasih memutuskan untuk menerima Sukarno tinggal di rumah mereka. Sukarno datang ke Bandung dengan penampilan parlente, khas kaum studen, dengan peci beludru hitam kebanggaannya. Sebagai seorang studen, Sukarno punya banyak teman yang hampir tiap hari berdatangan di pondokannya untuk berdiskusi. 


Beberapa waktu kemudian, Utari, istri Sukarno, datang menyusul ke Bandung. Keluarga Sanusi menempatkan Sukarno dan Utari dalam satu kamar, karena sejauh mereka ketahui, Sukarno dan Utari adalah suami istri. Namun pada suatu malam Sukarno bicara terus terang pada Inggit bahwa ia dan Utari belum berhubungan sebagai suami-istri, dan minta agar Utari ditempatkan di kamar lain. Sukarno mengungkapkan bahwa hubungannya dengan Utari tak lebih seperti kakak-adik. Dan pada akhirnya seiring waktu berjalan, Sukarno memilih untuk mengembalikan Utari kepada  ayahnya secara baik-baik. 

Sukarno akhirnya melanjutkan pendidikannya di Bandung dengan status duda muda. Ia kembali tinggal di rumah keluarga Sanusi-Inggit. Pada saat-saat itulah terjadi affair antara Sukarno dan Inggit. Sukarno menyatakan cinta kepada Inggit. Sebagai seorang pemuda yang berkobar-kobar, ia menemukan sosok ibu, kawan, sekaligus kekasih pada diri Inggit. Inggit Garnasih sendiri pada saat itu juga sedang merasakan kekeringan dalam perjalanan berkeluarga dengan Sanusi. Sukarno pun akhirnya memberanikan diri mengungkapkan isi hatinya kepada Sanusi. Sanusi bisa menerima keterangan Sukarno dan akhirnya Sanusi-Inggit bercerai secara baik-baik. Malahan Sanusi berharap agar Inggit membimbing Sukarno menjadi orang penting. 

Selepas perceraian tersebut, Sukarno menikahi Inggit Garnasih, perempuan yang usianya 12 tahun lebih tua dari dirinya. Selepas pernikahan itu, mau tak mau, Inggit lah yang menjadi kepala keluarga. Sebagai seorang studen, Sukarno, yang oleh Inggit disebut dengan sebutan sayang Engkus (diambil dari nama kecil Sukarno, Kusno), tidak mempunyai penghasilan. Maka, sebagai kepala keluarga Inggit berusaha mencari nafkah dengan berjualan jamu dan menjahit kutang. 

Belum lagi keterlibatan Sukarno dalam pergerakan nasional, menjadikan dirinya buruan kelas kakap pemerintah kolonial Hindia Belanda. Keberanian Sukarno, yang dikenal dengan “singa podium”, karena pidatonya yang berani terus-terang mengkritik pemerintah, menjadikannya langgangan keluar-masuk penjara. Sebagai seorang istri, mau tidak mau, Inggit harus bisa menerima keadaan ini, ia menyadari bahwa tugasnya adalah melayani suami dengan sebaik-baiknya. Dalam kehidupan berkeluarga, mereka tidak dikaruniai anak, maka mereka mengangkat anak, anak kakak Inggit, dan diberi nama Ratna Djuami, yang kemudian dipanggil Omi. 


Ketabahan Inggit sebagai seorang istri diuji ketika Sukarno menjadi langganan keluar-masuk penjara karena keberanian dan aktivitasnya di pergerakan nasional. Sukarno sempat ditahan di penjara Banceuy, Bandung, sebelum akhirnya dipindahkan ke penjara (saat itu), penjara Sukamiskin, yang letaknya 10 km di luar kota Bandung. Tanpa mengenal lelah, Inggit dan anaknya rutin mengunjungi Sukarno 2 kali seminggu ke Sukamiskin. Karena keterbatasan dana, Inggit berjalan kaki bolak-balik Bandung-Sukamiskin. Dan hal ini pastinya tak diceritakan kepada Sukarno, agar tak mematahkan semangatnya. Lagipula, kehadiran Omi merupakan hiburan tersendiri bagi Sukarno.

Melalui Inggit pula, Sukarno mengetahui tentang keadaan di luar penjara dalam betuk sandi-sandi. Dalam setiap makanan yang dikirimkan, Inggit memasukkan uang koin, sebagai bekal Sukarno untuk menyuap petugas penjara agar tak terlalu represif.  Ketika Inggit mengirimkan telur asin, itu sebagai pertanda bahwa keadaan di luar masih belum baik. Begitu juga dengan bacaan, karena tidak diperbolehkan mengirimkan koran, Inggit menyiasatinya dengan mengirimkan Al-Quran, karena pasti tidak dilarang. Pada bagian-bagian tertentu, Inggit memberi kode dengan melubangi kertasnya dengan titik-titik (seperti metode huruf Braille), dengan hal-hal kecil inilah Sukarno tetap up to date berkat jasa Inggit Garnasih. 


Selepas dari Sukamiskin, Sukarno masih dianggap sebagai tokoh yang berbahaya oleh pemerintah Hindia Belanda. Akhirnya diputuskan untuk “membuang” Sukarno ke sebuah tempat yang asing. Di kota Ende, di pulau Flores. Sebagai seorang istri, Inggit tetap setia mendampingi suaminya. Karena tak tahu berapa lama dibuang ke Ende, Inggit menjual rumahnya di Bandung. Bahkan Ibundanya, Ibu Amsi, memutuskan untuk ikut ke Ende. 

Di Ende, Inggit merasakannya sebagai tempat yang sangat terpencil dan terbelakang (dibandingkan di Bandung pastinya). Tetapi di tempat terpencil inilah keluarga Sukarno mendapatkan kebebasan. Ia bisa bercocok tanam, pergi ke pemandian umum, dan berekreasi ke laut. Di kota yang mayoritas penduduknya beragama Katolik inilah Sukarno merasakan dirinya sebagai “kaum minoritas”, dan hal inilah yang membuatnya bersikap toleran kepada pemeluk agama lain, di samping menjadi kesempatan bagi dirinya untuk mendalami Islam. Untuk mengasah kemampuan intelektualitasnya, sebagai partner diskusi Sukarno sering berdiskusi dengan para pastor yang bertugas di Ende. Karena tidak diperkenankan berpidato, untuk mengakalinya, Sukarno menggunakan media lain. Ia membentuk grup sandiwara yang bernama Tonil Kelimutu, dan menggunakan gedung Maria Immaculata sebagai tempat pementasannya.

Di Ende pula ada 2 peristiwa berkesan yang dialami keluarga Sukarno-Inggit. Pertama, meninggalnya Ibu Amsi, Ibunda Inggit, yang dimakamkan di Ende. Yang kedua, mereka mengangkat anak kembali, seorang putri, sebagai teman anak mereka sebelumnya, Ratna Djuami. Dari keluarga Atmosudirjo, pasutri Jawa yang berasal dari Purwokerto dan Purworejo, akhirnya merelakan anak mereka diangkat keluarga Sukarno. Oleh Sukarno anak itu kemudian diberi nama Kartika. 

Selepas dari Ende, Sukarno dan keluarganya oleh pemerintah Hindia Belanda kemudian dipindakan ke Bengkulu. Di Bengkulu, Sukarno bekerja sebagai guru di sekola Muhamadiyah. Di Bengkulu, Sukarno berkenalan dengan Hasan Din, Ketua Muhammadiyah di Bengkulu. Hasan Din kemudian menitipkan putrinya, Fatmah, untuk diasuh oleh Sukarno-Inggit, sambil melanjutkan sekolahnya. 

Pada masa-masa di Bengkulu inilah muncul bibit-bibit cinta antara Sukarno dan Fatmah (yang oleh Sukarno namanya kemudian diubah menjadi Fatmawati). Sebagai seorang istri, Inggit merasakan gejala-gejala ini. Sampai pada suatu malam Sukarno berterus terang kepadanya, bahwa ia ingin mempunyai keturunan. Inggit hanya bisa terdiam sambil berkata dalam hati, mengapa baru sekarang berkata begitu?
 
Inggit tetap berpegang pada prinsipnya, bahwa ia tidak mau dipoligami. Jika Sukarno ingin menikah lagi, silahkan, tetapi ceraikan dulu Inggit, begitu prinsipnya. Sukarno sendiri pun rasanya tak tega untuk menceraikan Inggit yang sudah begitu berjasa banyak kepadanya. Ia berharap Inggit mau dipoligami, menjadi istri tua, dan ia menikah lagi dengan Fatmawati. Tetapi harapannya itu tak pernah tercapai. 

Permasalahan ini akhirnya tak berlanjut, karena kedatangan Jepang. Sukarno akhirnya dibebaskan dan kembali ke Jakarta. Pada masa pendudukan Jepang, Sukarno aktif dalam pergerakan bekerja sama dengan jepang, dari memimpin gerakan 3A sampai ke Putera (Pusat Tenaga Rakyat), bersama tokoh-tokoh yang terkenal dengan nama 4 serangkai : Sukarno, Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan KH Mas Mansyur. Tetapi keinginan Sukarno untuk mendapatkan keturunan tidak pernah mereda. Begitu pula dengan prinsip Inggit yang tidak mau dipoligami. 


Akhirnya, Sukarno mengambil keputusan, Ia menceraikan Inggit Garnasih. Empat serangkai juga bermufakat dengan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi Sukarno, yaitu membelikan rumah di Bandung untuk tempat kediaman Inggit seumur hidup. Ratna Djuami dan Kartika juga mantap memilih mengikuti Inggit ke Bandung. Inggit Garnasih sendiri akhirnya menetap di Bandung sampai ia dipanggil penciptanya pada tahu 1983 dalam usia 94 tahun.


Dan dengan demikianlah, selesailah tugas Inggit menemani Sukarno sebagai ibu, kawan, dan kekasih. Ia telah mengantarkan Sukarno ke gerbang kemerdekaan. Inggit bagaikan batu karang, yang harus merasakan sakitnya diinjak-injak oleh derap langkah orang yang dikasihinya, agar orang itu dapat meraih cita-citanya. Dalam pandangan saya pribadi, ia lebih dari sekedar ibu, kawan, dan kekasih bagi Sukarno. Ia pantas dianggap sebagai seorang guru, walaupun pendidikan formalnya tidak setinggi Sukarno. Seperti kata filsuf Yunani, Nikoz Kazantakis,
“Guru adalah orang yang merelakan diri menjadi jembatan bagi murid-muridnya...
Dan setelah murid-muridnya melewatinya, mereka akan jatuh dan hancur dengan sukacita...
Sekaligus mendorong murid-murid untuk membangun jembatan bagi dirinya masing-masing...”

Jika Sukarno dan Fatmawati sudah mendapatkan gelar pahlawan, sudah sepatutnya Inggit Garnasih mendapatkan gelar tersebut. Tetapi mungkin saja, seandainya masih hidup, Inggit Garnasih tidak mengharapkan gelar tersebut. Karena baginya tugas utamanya adalah mendampingi suaminya dalam suka dan duka. 


Salam

Wong Sangar