Rabu, Juli 23, 2014

Revolusi Mental, Belajar dari Timnas Jerman





Bulan Juni-Juli 2014 ini warga Indonesia dibikin demam oleh 2 kompetisi yang pelaksanaannya (kebetulan) hampir bersamaan. Sebuah momen langka mengingat kedua acara tersebut bukanlah acara rutin tahunan (annual), dan secara kebetulan pelaksanaannya bersamaan di tahun 2014 ini. 

Acara yang pertama adalah piala dunia. Saya yakin, tidak hanya warga Indonesia saja yang mengikuti, tapi hampir seluruh warga dunia juga mengikuti. Acara yang kedua boomingnya hanya di Indonesia saja, namun tensinya tidak kalah panasnya dengan piala dunia, yaitu pemilihan presiden baru. Hal ini menjadi menarik, karena kandidatnya hanya 2 pasang capres-cawapres. Artinya hanya dalam sekali pemilu, pemenangnya dapat diketahui langsung. Dan kebetulan lagi (wah, kok semuanya jadi serba kebetulan…), siapapun yang terpilih akan menjadi Presiden Indonesia ke 7, sekaligus presiden baru, mengingat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah tidak mungkin lagi ikut bertarung dalam kompetisi, mengingat konstitusi sudah tidak mengijinkan. 


Secara matematis, event piala dunia dan pemilu presiden yang dilaksanakan bersamaan, bukan menjadi hal yang pertama kali terjadi di Indonesia. Di tahun 1982 (wah, saya belum lahir…), event piala dunia dan pemilu juga pernah dilaksanakan di tahun yang sama. Italia yang di tahun sebelumnya juga terlibat skandal calciopolli malah menjadi juara dunia (“siklus” ini terulang lagi di tahun 2006, Italia menjadi juara dunia setelah sebelumnya dihantam kasus calciopolli…). Sementara pemilu di Indonesia saat itu juga istimewa, karena meskipun belum dilaksanakan, tetapi publik sudah tahu siapa pemenangnya, dan siapa yang menjadi presiden terpilih, hehehehe. Maklum lah, suasana Indonesia saat itu sedang dikemas dalam sebuah bungkus yang bernama stabilitas nasional. 

Piala dunia tahun ini cukup menarik bagi saya, karena permainan tim-tim yang berlaga (apalagi sewaktu penyisihan) benar-benar menampilkan sepakbola yang offesif, sehingga cukup banyak gol yang tercipta. Bagi pemirsa yang dibela-belain begadang untuk menonton sepakbola, permainan dengan banyak gol menjadi sebuah kepuasan tersendiri. Selain itu beberapa tim unggulan yang tumbang saat penyisihan juga menjadi trending topic selama piala dunia berlangsung. 

Piala dunia kali ini menampilkan Jerman sebagai kampiun baru. Sebagai penggemar Die Nationalmannschaft, ini menjadi bonus bagi saya. Tetapi pada dasarnya, saya menikmati pertandingan sepakbola di piala dunia secara objektif, walaupun tetep punya jago, yaitu timnas Jerman. 

Saya mengikuti perkembangan timnas Jerman sejak Piala Dunia 1998 di Prancis. Panser tua yang datang ke kompetisi piala dunia menunjukkan permainan yang tidak begitu baik. Walaupun sempat lolos di fase grup, mesin Mercedez tua mereka hancur lebur saat digempur Kroasia dengan skor telak 0-3. Di piala eropa 2000, prestasinya lebih hancur lagi, menjadi juru kunci di fase grup. Dan pada saat inilah sepakbola Jerman mengalami keterpurukan di era sepakbola modern. 


Setelah keterpurukan di Euro 2000, sebakbola Jerman mulai mengubah strategi. Fokus mereka ada di pembinaan pemain muda. Pada periode 2002-2012 sepakbola Jerman menunjukkan prestasi fluktuatif, namun cenderung ke arah positif. Di piala dunia 2002 Jepang-Korea Selatan, Jerman berhasil mencapai final. Di piala eropa 2004 Portugal, mereka gagal di fase grup (walaupun tidak menjadi juru kunci). Pada piala dunia 2006 yang digelar di kandang mereka sendiri, Jerman hanya finish di semifinal. Mereka mampu mencapai final piala eropa 2008, namun Spanyol menghempaskan mimpi mereka. Di piala dunia 2010 Afrika Selatan, Jerman kembali finish di semifinal. Pada piala eropa 2012, fase semifinal kembali menghentikan langkah mereka. 


Di piala dunia 2014, mereka datang dengan percaya diri. Kesan sepakbola Panser yang kaku tak terlihat lagi, digantikan dengan umpan-umpan tajam yang diakhiri dengan sundulan kepala, mengandalkan fisik pemain Jerman yang rata-rata tinggi besar. Jerman solid di semua lini. Penampilan kiper Manuel Neuer mengingatkan saya pada sosok Oliver Kahn, dengan wajah yang lebih ganteng. Di lini belakang Mats Hummels dan Jerome Boateng bermain apik. Di lini tengah ada Toni Kroos dengan umpan-umpan berbahayanya. Dan di lini depan Thomas Muller menjadi target man. 


Walaupun bermain kurang mengesankan saat menghadapi Ghana di semifinal dan menghadapi Aljazair di perdelapan final, Jerman bermain hebat saat menghajar tuan rumah Brazil dengan skor 7-1 di semifinal. Di final, Jerman berhadapan dengan Argentina yang bermain kurang impresif di turnamen ini, yang terlalu mengandalkan Lionel Messi dan Angel Di Maria. 

Dan mitos tentang adu penalti di piala dunia 2014 kembali terulang. Tim yang memenagkan pertandingan melalui babak adu pinalti di fase knock out hingga semifinal, jarang ada yang menjadi juara. Dan mitos ini kembali terulang. Argentina yang sebelumnya mengalahkan Belanda di semifinal melalui adu pinalti, akhirnya harus menyerah kepada Jerman di final melalui perpanjangan waktu. 


Yang membuat saya salut kepada timnas Jerman kali ini adalah karena perjuangannya. Untuk menjadi juara, membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Mereka terakhir menjadi juara dunia tahun 1990. Artinya, untuk menjadi juara dunia lagi, mereka membutuhkan waktu 24 tahun. Waktu sedemikian tentu bukan waktu yang singkat. 


Catatan tambahan, semangat mereka yang tidak kenal menyerah menjadi inspirasi. Bastian Schweinsteiger mengalami pendarahan setelah dagunya disikut Sergio Aguero. Namun ia memilih lukanya dijahit dan melanjutkan pertandingan. Semangat pantang menyerah yang tidak asal-asalan. Pantang menyerah sekaligus pantang dikasihani. Karena tidak pernah ada dalam kamus kesuksesan yang diraih karena belas kasihan. Saya hanya mbatin, seandainya dulu saat perang dunia II Amerika Serikat tidak membuat poros sekutu dengan Negara-negara lain, ceritanya mungkin akan lain….


Dan inilah catatan yang paling mengesankan bagi saya tentang pemain timnas Jerman, mereka berjiwa sportsman. Bertempur sampai peluit panjang, namun tidak mengabaikan sportivitas. Saat membabat Brasil 7-1 di semifinal, tidak ada selebrasi berlebihan dari pemain Jerman, yang terjadi justru mereka menghibur David Luiz cs dan supporter Brasil yang tampak sangat terpukul. Ketika mengalahkan Argentina di final, dan menjelang penyerahan trofi, para pemain Jerman membuat “terowongan” untuk pemain Argentina yang naik ke podium menerima medali perak. Mungkin inilah revolusi mental ala Jerman.


Di Indonesia menjelang pilpres suasananya justru berlawanan. Kubu Prabowo-Hatta bersaing dengan Jokowi-Jusuf Kalla. Namun harus diakui, pilpres kali ini adalah pilpres paling panas sepanjang sejarah Indonesia. Kedua kubu saling melancarkan provokasi dan kampanye hitam menyerang lawannya masing-masing. Isu SARA dihembuskan, dan hal ini yang memperkeruh suasana. Dalam debat capres-cawapres juga tidak kalah panas, kesalahan pengucapan pun dijadikan bahan bullying. Dan peran media sosial di sini semakin dominan. Diperkeruh lagi informasi yang tidak jelas dan sengaja dibelokkan. Indonesia berada dalam ketidakpastian dan perpecahan. Namun setelah itu saya paham, mengapa bangsa ini mudah dijajah dan dipecah belah. 

Bahkan sesaat dan setelah pemilu pun kondisinya tak jauh beda. Informasi yang beredar semakin tidak jelas. Kedua kubu sama-sama mengklaim mendapatkan mandat rakyat menjadi pemimpin Indonesia (walaupun masih sebatas quick count…). Bahkan kubu Prabowo-Hatta sudah menggelar syukuran kemenangan. 

Prabowo datang dari latar belakang keluarga priyayi, dan orang kaya pada jamannya. Hampir semua karirnya cemerlang pada awalnya. Namun karirnya berantakan justru saat ia berada di puncaknya. Sebagai seorang berlatar belakang militer, semangat pantang menyerah Prabowo patut dipuji. Dalam suatu kesempatan ia menyampaikan bahwa “losing is not an option”


Jokowi hadir dari latar belakang rakyat di Solo, Jawa Tengah. Seperti orang Jawa pada umumnya, sosoknya terlihat klemar-klemer, jauh dari gambaran sosok yang tegas. Namun untuk soal prestasi, ia tidak kalah kelas. Menjadi wali kota untuk periode kedua dengan suara 90% menjadi parameter bahwa ia dipercayai oleh rakyatnya. Namun seperti orang Jawa kebanyakan, sosoknya tidak seagresif Prabowo yang menurut saya terlalu blak-blakan. 


Kedua kubu sudah menyatakan siap menang siap kalah, dan menghargai keputusan final real count dari KPU. Namun di hari pengumuman, semakin terlihatlah karakter yang sebenarnya. Prabowo benar-benar menepati janjinya bahwa “losing is not an option”. Ia menolak hasil pemilu dan menarik diri dari Pilpres 2014. Menurut saya ini keputusan yang salah sekaligus memalukan. Untuk menjadi pecundang yang baik pun menurut saya Prabowo tidak layak. 

Beruntunglah Jokowi yang terpilih. Saya merasa beruntung telah memilih Jokowi di Pilpres ini. Dan berharap revolusi mental yang didengang-dengungkan selama ini benar-benar diwujudkan. Bagi saya revolusi mental itu sederhana saja. Mencontoh timnas Jerman. Revolusi mental yang melibatkan seluruh rakyat, semangat pantang menyerah, untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat.


Kedaulatan seperti halnya kesuksesan, tidak pernah didapatkan karena belas kasihan….

Saat kusadari ternyata semuanya terasa begitu bermakna
Salam

 
Wong Sangar

Selasa, Mei 13, 2014

Nama, Cerita Mahabharata, dan Karakter di bawah sadar





Saat-saat ini, ketika sudah mulai pendaftaran siswa baru, kegiatan baru saya adalah mengamati para calon siswa yang sedang mendaftarkan diri. Selain mengamati jumlah pendaftar yang masuk, saya juga mengamati nama-namanya. Dan kesimpulannya, nama-nama anak (dan remaja) di Indonesia saat ini sudah mulai memasuki “jaman modern”. Jarang kita temui, sekalipun masih ada jumlahnya juga sedikit, anak-anak dan remaja jaman sekarang yang bernama “kuno”. Nama anak-anak (dan remaja) jaman sekarang, fenomenanya menjurus ke arah nama-nama “impor”. Impor yang saya maksudkan disini yaitu nama yang benar-benar diambil dari kata-kata asing (yang dalam skripsi harusnya ditulis dalam huruf italic). 

Tren jaman sekarang nama-nama anak cenderung berbau Timur Tengah dan British. Walaupun sah-sah saja, tetapi dari sudut pandang saya pribadi, saya lebih sreg jika tetap ada nuansa budaya lokal dalam nama tersebut. Tanpa bermaksud membenarkan diri, saya lebih sreg dengan nama-nama yang merupakan perpaduan antara budaya luar dan budaya setempat. Menjadi modern tanpa harus meninggalkan akar budayanya, sebagai contoh nama-nama pemain film Hongkong seperti Jackie Chan, Stephen Chow, dll. 



Sekarang ini nama anak-anak yang justru banyak kita temui adalah nama-nama berbau Timur Tengah (asli), nama-nama aktor/aktris, atau nama-nama pemain bola terkenal. Walaupun untuk saat ini nama Joko Widodo termasuk nama yang menjadi trending topic di berita-berita nasional, namun jarang kita temui anak-anak di bawah usia 15 tahun yang bernama seperti itu. Nama Joko dan Widodo dianggap nama kuno, sehingga banyak orang tua yang enggan (atau tidak tega) memberikan nama anaknya sedemikian. Karena mereka juga kuatir jika anaknya menjadi bahan olok-olok karena soal nama yang dianggap “kurang update”

 


 Padahal sebenarnya, nama Joko Widodo mengandung makna yang mendalam. Artinya kurang lebih anak lelaki yang selamat (hidupnya). Walaupun kental dengan budaya jawa, pada jaman dahulu orang-orang biasa memberi nama anak-anak mereka dari bahasa Sansekerta, unsur alam, ataupun nama-nama tokoh pewayangan. 

Presiden Sukarno contohnya. Semua anak-anaknya diberi nama-nama yang mengandung unsur atau fenomena alam (misalnya Guntur, Mega, Guruh). Bagi para Sukarno lovers, hal ini juga bisa menjadi inspirasi. Saya mempunyai saudara di Jakarta (Sukarno lover juga), anak-anaknya pun juga diberi nama-nama yang mengandung unsur atau fenomena alam (dalam bentuk yang lebih ekstrim dari Sukarno), yaitu : Halilintar, Badai Samudra, dan Angkasa. Namun nama-nama bernuansa unsur-unsur alam saat ini mulai jarang ditemui, terlebih setelah ada tokoh-tokoh yang sengaja menggunakan nama-nama ini untuk kepentingan pribadi dan menipu orang, misalnya Guntur Bumi. Jadilah model-model nama seperti ini semakin jarang digunakan karena beberapa orang tua takut jika memberi nama anaknya, malah dikira akan menjadikan anaknya sebagai paranormal….


 
Selain alam, orang-orang di masa lalu (khususnya di Jawa dan Bali) menamai anak-anak mereka dengan kata-kata serapan dari Bahasa Sansekerta, misalnya Eko, Dwi, Tri, Catur, Ponco, dst. Kata-kata dari Bahasa Sansekerta tersebut tidak melulu yang bermakna bilangan, tetapi juga hal-hal lain (termasuk unsur alam tadi), misalnya  tirta yang berarti air, kartika yang berarti bintang, dst. Namun seiring perkembangan jaman, model seperti ini mulai bergeser. 

Satu hal lagi yang hampir terlupa, di masyarakat Jawa dan Bali, terdapat juga beberapa orang tua yang memberikan nama anaknya dari nama-nama di tokoh pewayangan. Di kalangan masyarakat Jawa dan Bali saat itu, wayang tidak hanya sekedar seni pertunjukkan. Kisah-kisah dalam cerita wayang oleh masyarakat saat itu juga dijadikan sebagai cara pandang dalam menjalani kehidupan. Begitu juga dengan tokoh-tokohnya. Sehingga banyak orang tua yang memberi nama anaknya dari nama tokoh-tokoh wayang. Sebagian besar diambil dari epos Mahabharata dan Ramayana, yang aslinya diimpor dari India tetapi sudah dianggap sebagai bagian dalam masyarakat Jawa dan Bali. Kisah Mahabharata lebih populer dibandingkan Ramayana karena selain jumlah tokoh yang terlibat lebih banyak, masalah dan karakteristik setiap tokoh pun semakin kompleks. 

Nah, terkait dengan cerita wayang ini ada sebuah pengalaman baru bagi saya. Akhir-akhir ini semenjak booming  acara-acara “pembodohan” di televisi-televisi swasta (yang isinya hanya kuis, olok-olok fisik, dan jogetan yang tidak mendidik), saya menjadi malas untuk menonton televisi, khususnya saat-saat prime time. Namun, salah satu televisi swasta berani mengambil sebuah keputusan nekat ketika memutar Kisah Mahabharata di saat stasiun lain memutar acara goblok-goblokan. Sebuah terobosan yang berani dan ternyata tidak sia-sia, karena selain kisahnya menarik, pemerannya pun cakep-cakep, sehingga banyak orang yang suka. Termasuk saya sendiri. 



Bedanya dengan buku sejarah, khususnya di Indonesia, penokohan dalam tokoh wayang (khususnya dalam Epos Mahabharata) digambarkan dengan lebih fair  alias lebih objektif. Setiap tokoh yang ada pasti mempunyai sisi gelap, bahkan tokoh protagonis sekalipun. Sebaliknya juga, tokoh antagonis pun terkadang digambarkan mempunyai sisi baiknya. Sebagai contoh sosok Bima yang digambarkan urakan (tidak pernah berbahasa halus), berbicara kasar (blak-blakan), namun di sisi lain berjiwa besar dan jujur. Ataupun Krishna yang digambarkan bijaksana, di sisi lain juga menjadi provokator bagi para Pandawa. Tidak seperti sejarah Indonesia. Tokoh-tokoh pahlawan hanya digambarkan kebaikannya melulu, seolah-oleh kesalahannya di masa lalu sudah ditebus oleh penguasa. 

Setelah semakin mendalami lagi kisah Mahabharata dari berbagai literatur (buku internet, dll), saya semakin tertarik dengan kisah-kisah dan petuah di dalam cerita wayang tersebut. Banyak pesan moral yang bisa didapat (bahkan di serial Mahabharata sendiri ada satu segemen untuk “refleksi”). Selain itu banyak juga untold stories dalam cerita Mahabharata yang baru saya ketahui setelah mempelajari lebih dalam. Misalnya saja, sosok wanita perkasa di bumi Indonesia ini sering diidentikkan dengan tokoh Srikandi, namun di masyarakat semenjak jaman dulu, jarang sekali ada orang tua yang memberi nama putrinya Srikandi. Ternyata dalam versi aslinya, Srikandi adalah sosok wanita yang bertransformasi menjadi pria, alias waria. Dan di masyarakat saat itu (bahkan sampai saat ini) sosok waria masih dianggap tabu. Begitu pula dengan kisah Dewi Drupadi. Di kisah aslinya, Drupadi menjadi istri dari kelima kakak-beradik Pandawa. Namun setelah kisah ini sampai di Indonesia, sosok Srikandi “diperhalus” menjadi wanita, dan sosok Drupadi menjadi istri dari Yudhistira (Pandawa tersulung) saja. 

Satu hal yang juga saya sadari, memberi nama anak dengan makna yang jelas (sebagai contoh dengan memberi nama dari unsur alam, tokoh wayang, dll), secara tak langsung juga membentuk karakter si anak dari alam bawah sadarnya. Sebagai contoh saudara saya tadi. Yang tersulung diberi nama Halilintar, orang tuanya mungkin mempunyai harapan dari makna nama tersebut, bahwa si anak nantinya menjadi tanda perubahan, sebagaimana Halilintar yang memberi tanda berubahnya cuaca dari berawan menjadi hujan. Begitu juga dengan adiknya yang bernama Badai Samudra, mungkin harapannya agar Si Anak kelak menjadi sosok yang kuat, tahan banting, dan menyukai tantangan, bagaikan kapal yang dihantam badai samudra. Dan yang terakhir yang diberi nama Angkasa, mungkin harapannya agar Si Anak kelak mampu membawa orang-orang menjadi lebih dekat kepada Tuhan (karena Tuhan sering digambarkan tinggal di angkasa…). Boleh percaya boleh tidak, ternyata harapan orang tuanya tentang anak-anaknya tersebut menjadi kenyataan. Bisa jadi kebetulan, tapi buktinya bisa dilihat betulan. Selebihnya wualahualam….

Itu contoh nama-nama dari unsur  alam. Jika nama dari tokoh pewayangan, khususnya Mahabharata juga ada lagi. Contoh yang paling mudah adalah Presiden Sukarno. Walaupun terlahir dengan nama Kusno, karena sering sakit, akhirnya namanya diganti menjadi Sukarno. Dalam pandangan masyarakat Jawa saat itu, jika anak sering sakit, kemungkinan nama yang diberikan orang tuanya tidak cocok untuk si anak. Sukarno yang dilahirkan saat fajar, sering juga disebut “Putra Sang Fajar”, ini identik dengan tokoh Karna dalam Mahabharata yang merupakan anak pemberian Batara Surya, dewa matahari kepada Kunti, ibu dari Yudhistira, Bima, dan Arjuna. Maka Karna sendiri sering disebut sebagai Suryaputra. 

Dalam cerita Mahabharata, saat Kunti masih muda, ia diberi sebuah mantra sakti oleh Resi Durwasa agar mampu memanggil Dewa-Dewi sesuai dengan yang dikehendakinya. Pada suatu hari, Kunti ingin mencoba naugerah tersebut dan memanggil salah satu Dewa, yaitu Surya. Surya yang merasa terpanggil, bertanya kepada Kunti, apa yang diinginkannya. Namun Kunti menyuruh Sang Dewa untuk kembali ke kediamannya. Karena Kunti sudah memanggil dewa tersebut agar datang ke bumi namun tidak menginginkan berkah apapun, Sang Dewa memberikan seorang putra kepada Kunti.

Kunti tidak ingin memiliki putra semasih muda, maka ia memasukkan anak tersebut ke dalam keranjang dan enghanyutkannya di sungai Aswa. Kemudian putera tersebut dipungut oleh seorang kusir di keraton Hastinapura yang bernama Adirata, dan anak tersebut diberi nama Karna.

Karna selanjutnya tokoh antagonis penting dalam Mahabharata. Ia menjadi pendukung utama pihak Korawa dalam perang besar melawan Pandawa. Padahal sesungguhnya, Karna merupakan kakak tertua dari tiga di antara lima Pandawa (Yudistira, Bima, dan Arjuna). Karna merupakan sosok pahlawan yang memiliki sifat-sifat kompleks. Meskipun berada di pihak antagonis, namun ia terkenal sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kesatria. Sifatnya angkuh, sombong, suka membanggakan diri, namun juga seorang dermawan yang murah hati kepada siapa saja, terutama fakir miskin dan kaum brahmana. Kesaktiannya yang luar biasa membuat namanya terkenal sepanjang masa dan disebut dengan penuh penghormatan.


Identik dengan Presiden Sukarno, karkaternya sangat mirip dengan tokoh Karna dalam Mahabharata. Walaupun semasa hidupnya Sukarno nampaknya sangat mengemari sosok Krishna. Sebagai panglima dan ahli pidato, Sukarno nampaknya mempersonifikasikan dirinya dengan sosok Krishna. Sampai-sampai pasukan pengawal pribadinya pun diberi nama Tjakrabirawa, yang diambil dari nama senjata milik Krishna. Namun sejatinya, sosok Sukarno justru sangat identik dengan sosok Karna. 

 
Bahkan saat kematiannya pun mirip dengan kematian tokoh Karna, disingkirkan dengan cara kurang fair. Karna mati di tangan Arjuna ketika roda keretanya terperosok ke dalam tanah. Sebenarnya Arjuna tidak tega membunuhnya, karena selain Karna adalah kakak kandungnya, perbuatan itu (menghabisi lawan yang tidak berdaya) tidak sesuai dengan etika perang (Dharmayudha). Namun setelah diprovokasi Krishna, Arjuna akhirnya membunuh Karna. Kematian Sukarno juga hampir mirip. Ia disingkirkan lewat cara-cara yang sebenarnya tidak sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku saat itu. Bedanya, tokoh Karna menemui ajalnya dengan seketika, sedangkan Sukarno menemui ajalnya secara perlahan-lahan. 

Itulah sedikit kisah dan pengalaman saya tentang nama, tokoh wayang, dan karakter di bawah sadar. Walaupun sastrawan William Shakespeare pernah mengatakan apalah arti sebuah nama, namun bagi saya sebuah nama mengandung pesan dan harapan yang mendalam. Dan secara tidak langsung akan membentuk karakter di alam bawah sadarnya. Dan perlu diingat juga, segala sesuatu yang modern tidak sepenuhnya baik, dan segala sesuatu yang kuno tidak sepenuhnya buruk….


saat kusadari, ternyata semuanya terasa sangat bermakna
salam



















Wong Sangar

Selasa, Maret 11, 2014

Mikael Mengajar, When The Children Smile




Setelah sekian bulan vakum, akhirnya ada  kesempatan untuk nulis-nulis lagi. Tiga bulan vakum nulis dan tidak di-publish, rasanya agak sebel juga. Karena hal yang membuat vakum itu gara-gara laptop rusak dan harus diperbaiki. Banyak kegiatan yang akhirnya tidak terdokumentasikan dalam bentuk tulisan. Mulai dari libur Natal di Madura (tepatnya di daerah warm river alias Kalianget, yg memakan waktu perjalanan 14 jam dari Solo, kesel tenan…), rafting alias arung jeram bersama temen-temen panitia PPM (Piala Persahabatan Mikael) di Sungai Elo Magelang, Erupsi Gunung Kelud yang dashyat di hari Valentine, sampai-sampai derah Jawa Barat yag jaraknya ratusan kilometer pun terkena dampaknya,Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) untuk pengurus OSIS yang baru, dan banyak lagi kisah-kisah lain yang ndak sempat terdokumentasikan dalam tulisan dan di-publish, untuk sekedar dibagikan sebagai bacaan ringan. 

Kali ini tulisan saya masih ndak jauh-jauh dari dunia pendidikan, tepatnya yang baru dialami siswa-siswa kelas XI dari tanggal 6-9 Maret. Berangkat dari sebuah keprihatinan, dan berakhir dengan kesan yang mendalam, membuat cuilan kisah-kisah ini menjadi menarik dan recommended untuk dibagikan. Jika ada yang mau mengembangkan dan mengikuti modelnya, silahkan saja. 

Berangkat dari sebuah keprihatinan, bahwa orang teknik (mesin) itu cenderung kaku dan asosial. Dunia teknik mesin itu kalau boleh jujur, adalah dunia yang brengsek. Brengsek dalam artian semuanya serba teratur dan membatasi orang untuk kreatif. Dari cara menggambar sampai mengukur saja semua serba diatur. Maka tanpa disadari, dunia teknik mesin seperti menghasilkan “robot-robot kecil”, yang semuanya serba diatur oleh sebuah sistem yang cenderung menghasilkan mahkluk-mahkluk yang kaku dan kurang peduli kepada lingkungannya, karena banyak hal dilakukan secara individual. Apalagi dalam berkegiatan, interaksi mereka lebih banyak dengan benda kerja yang nota bene adalah benda mati. Hal inilah yang menjadi kelemahan (dan tentunya masukan juga) bagi dunia pendidikan teknik, khususnya teknik mesin. 

Padahal di SMK Mikael sendiri berkehendak untuk menjadikan siswa-siswanya menjadi Man for Others. Jika mengacu ke kurikulum yang ada, cita-cita itu bisa saja tercapai, tetapi tidak mudah. Karena dengan segala aturan dan keteraturan, siswa cenderung akan menelan tanpa berpikir kritis. Nah, ini yang berbahaya, karena jika sudah jadi kebiasaan atau habitus, siswa tidak akan mendapatkan makna dari kegiatan belajarnya. Mereka akan mendapatkan pengalaman belajar tetapi tidak mendapatkan maknanya, sehingga mereka tidak tahu untuk tujuan apa mereka belajar. Disinilah bahayanya. Maka perlu ada perlakuan (treatment) yang mau tidak mau membuat siswa mendapatkan pengalaman sekaligus makna, dan hal ini tidak cukup hanya dilakukan berdasarkan kurikulum yang disiapkan pemerintah. Tinggal pilih saja, kalau ikut pemerintah berarti hanya mau jadi ordinary, tapi jika mau jadi extraordinary, ya harus ada yang beda. 

Dari latar belakang dan fenomena tersebut, dibuatlah kegiatan pendampingan siswa untuk siswa kelas XI dengan tujuan untuk memperbaiki kemampuan bersosialisasi siswa. Kalau dilihat namanya, Latihan Kepemimpinan Tingkat Madya), wah ini pemerintah banget. Tetapi untuk isinya, coba dikemas berbeda, dibuat extraordinary dong. Di kelas X mereka sudah pernah mendapatkan LKTD (Latihan Kepemimpinan Tingkat Dasar) yang berfokus pada self leadership, sekarang fokusnya ada di social leadership


Tahun kemarin sudah dicoba LKTM dengan fokus di social leadership, tetapi jujur saja hasilnya masih mengecewakan. Mengirimkan siswa dengan tinggal bersama masyarakat (live in) di desa, ternyata tak banyak yang bisa didapatkan. Seneng sih, bisa tinggal bersama masyarakat desa, tetapi bagi siswa yang berasal dari desa, ini ndak ada bedanya dengan pulang kampung. Begitu juga harapan untuk melibatkan siswa dalam kegiatan bermasyarakat di desa, kecil sekali pengaruhnya. Masyarakat desa di Jawa yang masih lugu, mempunyai kecenderungan untuk melayani tamu sebaik-baiknya. Melayani dalam artian menjadi tuan rumah yang baik. Harapan untuk melibatkan siswa dalam kegiatan masyarakat sehari-hari tidak tercapai. Yang ada malah siswa menjadi lebih nyaman dibandingkan rutinitasnya sehari-hari. 


Akhirnya tahun ini kegiatan LKTM dirombak total konsepnya. Kali ini siswa setengah dipaksa untuk menjadi pengajar di sekolah-sekolah. Diharapkan kegiatan ini lebih baik daripada sekedar “pindah tidur” dari kota ke desa. Dengan menjadi pengajar, mereka sedikit dipaksa untuk bersosialisasi dengan guru dan siswa. Sedangkan untuk soal tempat tinggal, siswa dititipkan bersama keluarga guru-guru yang disinggahi. Dengan tinggal bersama keluarga guru, diharapkan ada komunikasi yang bersifat edukatif. 


Untuk penempatan siswa, SMK Mikael memilih untuk bekerjasama dengan Yayasan Kanisius Cabang Surakarta. Yayasan Kanisius sendiri mungkin merupakan yayasan pendidikan yang tertua di Jawa Tengah. Yayasan ini mengelola sekolah-sekolah dari TK sampai SMA. Untuk Yayasan Kanisius Surakarta, wilayahnya mencakup di eks Karesidenan Surakarta  (Surakarta, Sukoharjo, Klaten, Boyolali, Sragen, Karanganyar, Wonogiri). Dengan berbagai pertimbangan, siswa SMK Mikael akhirnya dikirim untuk mengajar di TK dan SD. Dalam dialog sebenarnya dibatasi untuk SD, hanya di kelas 1 dan 2, karena pada masa-masa itulah pembentukan karakter seseorang benar-benar dibentuk. Di masa-masa inilah ditanamkan hal-hal dasar pada seseorang yang kelak digunakan untuk menjadi bekal hidupnya.


Setelah dipetakan kembali, TK dan SD yang dikelola oleh Yayasan Kanisius Surakarta kemudian dibagi-bagi dalam zona-zona berdasarkan daerah. Untuk Kota Solo ada di daerah Keprabon, Purbayan, Semanggi, Sangkrah, Serengan, Sorogenen, dan Pucangsawit. Untuk daerah Karanganyar ada di Kedawung dan Karangbangun (keduanya ada di Kecamatan Jumapolo, di “pelosok” Karanganyar). Untuk daerah Klaten ada di Delanggu (kampung halaman Dono Warkop), Mlese, Sidowayah, Murukan (Wedi), dan Bayat. Sedangkan untuk daerah Wonogiri, walaupun jumlah sekolahnya paling sedikit, tetapi letaknya menyebar, dari Wonogiri, Baturetno, Watuagung, dan Serenan (Giriwoyo). Untuk teknisnya, siswa yang berasal dari desa atau luar kota Solo akan ditempatkan di kota, sedangkan yang berasal dari kota akan ditempatkan di desa. Diharapkan mereka akan mendapatkan pengalaman baru dari lingkungan yang baru pula.  


Satu hal yang saya lihat. Kanisius sudah melayani warga akan akses pendidikan, selain sejak jaman dulu, tetapi juga mencakup ke masyarakat yang tinggal di pelosok. Untuk saat ini, sekolah-sekolah Kanisius sepertinya menjadi suatu “spesies langka” dan patut dilestarikan. Pada masa jayanya, sekolah Kanisius adalah favorit masyarakat yang membutuhkan akses pendidikan, tanpa memandang bahwa sekolah Kanisius adalah Sekolah Katolik. Masyarakat yang saat itu masih lugu, tidak ragu untuk menyekolahkan anak-anaknya ke Kanisius tanpa rasa kuatir akan di-Kristenisasi. Namun sekarang kondisinya berubah. Dengan menjamurnya sekolah-sekolah negeri dan sekolah-sekolah swasta favorit, Kanisius kehilangan peminat. Belum lagi adanya isu Kristenisasi, membuat Kanisius semakin ditinggalkan masyarakat yang (ngakunya) semakin cerdas ini. 



Dari semua sekolah Kanisius yang akan ditempati siswa Mikael, hanya di Purbayan dan Keprabon saja yang masih diminati oleh masayarakat dari golongan mampu. Selebihnya didominasi oleh siswa-siswa dari golongan marginal, masyarakat yang mungkin mendaftarkan anak-anaknya di Kanisius karena sudah tidak ada pilihan lain, daripada tidak bersekolah. Inilah semangat yang saya lihat pada guru-guru di sekolah-sekolah Kanisius itu. Semangat untuk menjadi martir. Semangat untuk mengorbankan diri, mengorbankan nama besar, untuk melayani anak-anak dari kaum tersisih akan kebutuhan pendidikan. Nah,realitas ini yang harus dilihat dan dipelajari siswa-siswa Mikael. Maka ndak salah kalau mereka dititipkan pada keluarga guru-guru dengan semangat luar biasa ini. 


Tibalah saatnya siswa-siswa ini disebar ke sekolah-sekolah Kanisius. Sampai hari H, Kamis 6 Maret 2014, tidak ada siswa yang tahu akan dikirimkan ke sekolah mana. Semua dilakukan dengan pendekatan pengelolaan emosi. Mereka hanya diberi surat untuk kepala sekolahbeserta alamatnya, dan dibekali dengan uang yang mepet untuk naik angkutan umum dan sekedar makan di perjalanan. Mereka ditantang untuk dapat mencapai tujuan. Tidak ada peta, tidak ada contact person, hanya ada alamat. Dari sini mereka ditantang untuk bersosialisasi, untuk berinteraksi dengan masyarakat langsung dengan bertanya. Model seperti ini dilaksanakan bagi siswa-siswa yang ditempatkan di derah Karanganyar, Wonogiri, dan Klaten (kecuali Delanggu). 

Bagi mereka yang ditempatkan di Delanggu, mereka harus berjalan kaki kurang lebih 15 kilometer, hanya dibekali masing-masing uang Rp. 6.000,- untuk makan siang selama perjalanan. Dilarang naik angkutan umum. Jika air minum mereka habis dilarang beli di warung, harus minta kepada warga sekitar. Dari hal-hal ekstrim ini social leadership ditanamkan. Bagi yang ditugaskan di dalam Kota semua diwajibkan berjalan kaki, menempuh jarak antara 8-12 kilometer melewati beberapa check point di Stadion Manahan, Plaza Sriwedari, dan Gereja Purbayan, sebelum dikirimkan ke sekolah-sekolah. Dengan catatan, perjalanan dilakukan di siang hari dengan panas yang luar biasa menyengat. 

Jumat dan Sabtu, 7 & 8 Maret 2014, siswa-siswa tersebut “dikaryakan” di TK & SD Kanisius yang ditunjuk. Tidak hanya membantu mengajar saat jam regular, mereka juga dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan lain seperti mengisi jam belajar tambahan, memperbaiki alat-alat yang rusak, dll. Intinya SMK Mikael menitipkan siswanya ke TK & SD Kanisius. Untuk teknis kegiatannya, semuanya diserahkan kepada sekolah yang ditempati. Setiap hari pula, ada tim dari SMK Mikael yang mengunjungi siswa-siswa tersebut untuk visitasi. Sebagian siswa tampak senang dan excited, karena mereka belum pernah mengalami pengalaman ini sebelumnya. Ternyata tidak mudah mengajar siswa TK & SD. Hari Jumat saya mendapat tugas mengunjungi siswa di daerah Klaten, dan Sabtunya di daerah Wonogiri. Mengamati siswa mengasuh anak TK, memberikan tambahan (sampai ada yang memberikan pelajaran tambahan menulis huruf Jawa), menginventaris barang-barang sekolah, bermain bola bersama anak-anak, sampai mendampingi siswa belajar drum band.  Sekalian memberikan uang untuk pulang ke Solo yang jumlahnya mepet juga. 







Minggu, 9 Maret 2014, semua peserta kembali ke SMK Mikael, dan acara ditutup dengan misa dan makan bersama. Saat misa, setiap perwakilan diminta menceritakan kesan mereka. Sebagian besar merespon positif kegiatan Mikael Mengajar ini. Rombongan dari Delanggu datang terlambat karena sebenarnya mereka diminta kepala sekolah untuk tidak pulang hari itu. Rombongan dari Jumapolo membawa oleh-oleh rambutan dan durian, Rombongan Purbayan Solo yang walaupun sudah diberi uang transport tetapi memilih untuk berjalan kaki menembus car free day. Dan masih banyak cerita lain yang berkesan bagi mereka. Tetapi kesimpulannya kegiatan ini cukup bermakna dan target social leadership secara umum dapat tercapai. Kedua belah pihak, Kanisius dan Mikael, sama-sama mendapatkan pengalaman baru, sekaligus dapat belajar bersama. Beberapa siswa mengatakan, waktunya kurang lama. Tetapi tak apa lah, daripada jika terlalu lama malah akan menimbulkan rasa jenuh (di samping itu kalau terlalu lama biayanya pasti akan bertambah, hehehe…).


Sebagai penutup tulisan ini, sekaligus refleksi tentang kegiatan “Mikael Mengajar”, berikut ini ada petikan puisi dari Dorothy Law Nolte

Jika anak dibesarkan dengan celaan, dia belajar memaki

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan/kekerasan, dia belajar membenci

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, dia belajar rendah diri

Jika anak dibesarkan dengan hinaan, dia belajar menyesali diri

Jika anak dibesarkan dengan toleransi, dia belajar menahan diri

Jika anak dibesarkan dengan pujian, dia belajar menghargai

Jika anak dibesarkan dengan dorongan, dia belajar percaya diri

Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, dia belajar keadilan

Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, dia belajar menaruh kepercayaan

Jika anak dibesarkan dengan dukungan, dia belajar menyenangi dirinya

Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, dia pun belajar menemukan cinta dalam kehidupan

Saat kusadari ternyata semuanya terasa sangat bermakna...
Salam

 

Wong Sangar