Senin, Mei 18, 2015

Sahabat dalam Tuhan





Hidup itu memang dinamis. Mungkin memang begitulah kenyataannya. Ada masanya kita merasakan ada di masa jaya, dan ada waktunya juga kita merasa di masa susah. Datangnya pun seringkali beruntung. Keberhasilan datang terus-terusan, untuk selanjutnya digantikan dengan kegagalan yang bertubi-tubi. Dari pengalaman itu kita diajak untuk “siap gagal” ketika keberuntungan datang, dan “siap beruntung” ketika kegagalan datang. 
          Begitu jugalah pengalaman pribadi saya kurang lebih satu tahun belakangan. Dari prestasi yang gemilang, berubah kelam secara mendadak. Dari sisi jasmani, mungkin hal ini membuat “galau”, karena saya terbiasa sitematis, eksekusi, dan semua beres. Namun di sisi lain, ada sebuah hiburan rohani alias konsolasi, dimana jiwa saya mengalami gerak batin sehingga mengobarkan hati untuk semakin mencintai Tuhan (halah…). Setidaknya, bagi saya sendiri, saya masih bisa merasa bangga karena hati nurani saya belum mati. Ketika melihat keadaan yang semakin sontoloyo,  saya masih bisa tegas untuk melawan. Baik secara frontal maupun secara cerdas, seperti yang dilakukan Warkop dalam bentuk sindiran. 
Kata sontoloyo sendiri berasal dari profesi penggembala bebek. Dalam menjalankan profesinya, seorang penggembala bebek mempunyai tugas untuk mengendalikan perjalanan bebek, supaya tetap pada barisan dan utuh, tidak ada satu pun yang tercecer. Fenomena jama sekarang banyak menunjukkan hal itu. Setidaknya Presiden Indonesia pun berhasil melakukannya, berhasil mengubah budaya ABS (Asal Bapak Senang) menjadi budaya AIS (Asal Ibu Senang). Walaupun ibu yang dimaksud disini masih multitafsir (dalam pikiran positif, kita berharap ibu tersebut adalah ibu pertiwi Indonesia, hahahahah…..). 
Kembali ke sontoloyo. Fenomena jaman sekarang di segala lini pun kurang lebih sama. Banyak orang yang memilih menjadi bebek, begitu pula pemimpinnya, memilih menjadi sontoloyo. Kata sontoloyo menjadi bermakna negatif, karena dalam prakteknya, Si Penggembala alias sontoloyo tadi menggerakkan tangan kirinya untuk membelokkan barisan bebek ke kanan, dan sebaliknya menggerakkan tangan kanannya untuk membelokkan bebek ke kiri. Sontoloyo menjadi simbol untuk orang yang munafik, yang pikiran, perkataan, dan perbuatannya tidak sinkron (dari contoh menggerakkan tangan kanan untuk belok kiri). Sedangkan bebek menjadi simbol bagi orang yang berkoar-koar namun tetap menjadi follower, tidak bisa berpikir kritis dan menggunakan hati nuraninya. Mereka tau perbuatan yang dilakukannya salah, tapi tetap melakukannya. Ndak papa, toh orang lain juga melakukannya. Itu baru salah kalau sudah terbukti  alias konangan, mungkin begitulah yang ada di benak mereka. 
Fenomena ini pula yang menggerakkan saya, dan akhirnya saya mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Bulan Mei dan Oktober bagi umat Katolik merupakan bulan yang khusus, saat mereka mengkhususkan diri untuk menghormati Kandjeng Ibu Maria (perlu digarisbawahi, menghormati di sini tidak berarti menyembah, karena hanya Tuhan yang patut disembah, halah…). Kebiasaan itu pulalah yang mengerakkan saya untuk melakukan peziarahan, secara khusus untuk menghormati Kandjeng Ibu Maria. 
Saya sendiri sebenarnya sebenarnya merencanakan 2 alternatif tujuan : Sendangsono, dan Ambarawa. Bagi saya sendiri, 2 tempat tersebut menjadi menarik karena nilai historisnya sangat kuat. Dan itu juga yang menjadi interest saya, berziarah tidak hanya sekedar menjadi ritus, tetapi menjadi sarana untuk belajar dari nilai-nilai historisnya. Sendangsono menjadi spesial karena di tempat itulah cikal bakal umat Katolik dari kaum Jawa (yang sebelumnya disebut kaum inlander..) tumbuh subur dan berkembang. Ambarawa menjadi spesial juga karena di daerah itu sempat menjadi neraka bagi tentara Inggris yang menang perang dunia II, saat mereka digempur oleh pasukan Sudirman dan kawan-kawan (yang notabene hanya mantan guru…) saat melintas dari Semarang menuju Magelang. Ambarawa menjadi simbol perlawanan kaum lemah melawan kaum yang sok-sokan  berkuasa. 

Karena kali ini saya melakukan peziarahan bersama istri saya tercinta, maka Ambawara lah yang dipilih. Alasannya sederhana saja, karena akses menuju Ambarawa dengan angkutan umum lebih mudah dibandingkan akses menuju Sendangsono. Selain itu Ambarawa letaknya lebih terbuka, berbeda dengan Sendangsono yang jauh dari keramaian. Hal ini menjadi penting karena jika melakukan perjalanan bersama istri pasti lebih ribet daripada melakukan perjalanan sendiri. Alasan lain juga yang menguatkan adalah dengan dibukanya kembali museum kereta api di Ambawara. Kami ingin merasakan ”numpak sepur kuno”  mejelajahi perjalanan Ambarawa-Tuntang melewati Rawa Pening. 



Dari berbagai informasi yang saya kumpulkan secara “googling” akhirnya saya mendapatkan penginapan yang cukup terjangkau, di penginapan “Blue Mary” , di rumah keluarga Bp. Martinus Suhadi. Untuk kebutuhan transportasi selama di Ambarawa, istri saya memberanikan diri untuk “nembung” ke rumah orang tua teman, Mahatma Chryshna, yang juga di Ambarawa. Dari pengalaman-pengalaman ini saya menemukan “Sahabat dalam Tuhan” yang akhirnya saya jadikan judul tulisan saya kali ini. Bahwa dalam peristiwa kali ini, saya menemukan sahabat-sahabat dalam Tuhan, yang akhirnya menjadikan perjalanan kami tidak hanya lebih mudah, tetapi juga lebih bermakna. Keluarga Bp/Ibu Martinus Suhadi ternyata juga relasi dari keluarga Mas Ganang, yang membuat kami tidak seperti tamu yang memesan penginapan, tetapi malah seperti keponakan yang berkunjung ke rumah paman. Begitu juga ketika mengunjungi keluarga Mas Ganang untuk meminjam motor, obrolan-obrolan ringan dengan Pak Narto (Bapak Mas Ganang) membuat saya merasa menjadi mahasiswa kembali, yang mendengarkan ceramah dari professor. Singkat, berisi, dan tidak ada unsure ngapusi, karena semua yang disampaikan dapat ditangkap dengan mudah oleh logika saya yang sebenarnya pas-pasan ini…

Tak lupa pula sebelum ke Ambarawa kami berdua mampir ke Giri Sonta, untuk mengunjungi makam Para Sahabat-Sahabat dalam Tuhan yang sudah mendahului kami. Secara khusus nyekar ke makam Romo Hardjasudarma SJ, yang meresmikan pernikahan Almarhum Bapak dan Almarhumah Ibu saya. 


Romo Almering SJ yang sudah membaptis saya dan meresmikan saya menjadi anggota Gereja Katolik (dan sampai saat ini masih resmi tercatat, hahahaha…..), 


sekaligus Romo Casutt SJ yang menjadi inspirasi, sosok mercusuar dan batu karang yang kuat dalam mempertahankan prinsip dan hati nurani. 





Dan saat di Ambarawa, kami menjalani tirakat dengan berjalan ke arah Gua Maria Kerep menjelang tengah malam, membawa segala suka duka kami berdua untuk disampaikan kepada Kandjeng Ibu Maria, untuk selanjutnya mohon kekuatan karena pada dasarnya kami adalah mahkluk yang lemah, menghadapi dunia yang semakin sontoloyo ini. 

Dan pada keesokan harinya, untuk semakin memaknai perjalanan yang berkesan ini, kami mengikuti perayaan Ekaristi di Gereja Santo Yusup Ambarawa, atau yang lebih dikenal dengan nama Gereja Jago. Gereja ini juga yang menjadi saksi bisu peristiwa Palagan Ambarawa, dan tetap berdiri tegak sampai hari ini. Dan rangkaian liburan kali ini ditutup dengan perjalanan dengan kereta wisata Ambarawa-Tuntang yang mengesankan. Dan tentunya dari perjalanan liburan kali ini, pengalaman yang paling mengesankan adalah boleh berjumpa dan mengunjungi Sahabat-Sahabat dalam Tuhan.



saat kusadari ternyata semuanya terasa sangat bermakna
Salam


















Wong Sangar

Jumat, Agustus 15, 2014

Memilih untuk Merdeka (sebuah memoar)





Prolog: 
 Bulan Agustus merupakan bulan yang istimewa bagi saya, karena selain ulang tahun saya yang “kebetulan” jatuh di bulan tersebut, dalam bulan ini juga terdapat perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Setiap tahun saya selalu menyempatkan diri untuk membuat tulisan yang bertemakan kemerdekaan. Dan khusus tahun ini pula, pada tanggal 17 Agustus 2014, tepat di hari kemerdekaan Republik Indonesia, saya “memilih untuk merdeka” dengan melangsungkan kehidupan saya selanjutnya dalam fase pernikahan. Dengan berbagai pertimbangan, saya tidak sempat mengundang beberapa rekan untuk menghadiri acara pernikahan saya. Kali ini saya bagikan sedikit memoar saya. Semoga bermanfaat


Memilih untuk Merdeka
Alexander Arief Rahadian Nugroho Warsito

Masa Kecil
Terlahir dari keluarga sederhana dan cenderung pas-pasan justru menjadikan masa kecil saya menjadi istimewa (paling tidak menurut yang saya rasakan sekarang!). Dengan tidak selalu terpenuhinya apa yang saya minta di masa kecil saya, justru membuat saya belajar terlatih untuk nrimo alias menerima keadaan. Dari realitas yang saya terima itulah saya diajak untuk menemukan hidayah, menemukan pesan Tuhan yang pasti baik untuk diri saya, tetapi tidak selalu baik dari “kacamata” manusia saya, yang penuh dengan keterbatasan ini.
Oleh kedua orang tua, almarhum Indro Saryono dan almarhumah Anna Yhuhatin Nugroho Warsito, saya tidak diberi kelimpahan materi (materi dari mana, wong untuk hidup saja sudah pas-pasan...). Saya bersyukur, bahwa saya masih mendapatkan kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang layak. Walaupun hidup kami susah, tetapi orang tua tetap mengupayakan untuk mendapatkan pendidikan yang layak bagi anak-anaknya. Terutama untuk ibu (karena bapak sudah meninggalkan kami sejak saya berumur 15 tahun), yang direwangi ngutang sana-sini untuk biaya pendidikan yang tidak murah ini.

Pendidikan Mengantar ke Sebuah Perjumpaan
Almarhumah  Ibu juga yang “berjasa” untuk menyekolahkan saya sampai tingkat perguruan tinggi. Hebatnya, ibu “menyekolahkan” saya ke universitas setelah beliau meninggal dunia. Boleh percaya atau tidak, dengan dana santunan kematian dan tunjangannya, duit  tersebut saya gunakan untuk kuliah dan melanjutkan pendidikan saya. Tujuan saya hanya satu, dengan pendidikan yang lebih baik, saya berharap dapat meningkatkan taraf hidup saya, dari yang dibawah garis kemiskinan sampai apes-apesnya tepat di garis kemiskinan (yang artinya sebenarnya sederhana saja,  tetap sama-sama miskin, tetapii paling tidak sudah lebih mendingan...)
Kesempatan untuk kuliah di universitas negeri di tahun 2006, dimana orang Katolik adalah kaum minoritas, mempertemukan saya dengan istri saya sekarang. Kami satu angkatan, satu fakultas, tetapi berbeda jurusan dan program studinya. Berhubung kami adalah bagian dari kaum minoritas tadi, untuk mengikuti kuliah Agama Katolik “terpaksa ngungsi” di Wisma Mahasiswa Surakarta. Dari semenjak pertama kali bertemu, sudah ada gejolak di dalam diri, tetapi saya tidak berani untuk mengungkapkan. Saya lihat responnya (saat itu) juga negatif (menurut saya). Dan benar saja, ketika saya ungkapkan perasaan saya, jawabannya adalah penolakan. Mungkin karena sudah terbiasa keinginannya tidak dapat dipenuhi, maka saya hanya nrimo saja.

Penemuan Kembali Harapan yang Pernah Hilang
Tetapi seperti yang dituliskan dalam Kitab Suci, bahwa apa yang dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia. Setelah sekian lama lost contact, kurang lebih 4,5 tahun, kami dipertemukan kembali di penghujung tahun 2010. Saat itu dia sudah lulus dan diwisuda sebagai sarjana, sementara saya masih berkutat dengan skripsi dan baru akan memulai penelitian skripsi saya. Akhirnya pada 11 Februari 2011 (secara kebetulan tanggalnya unik, 1102-2011), tembakan saya kali ini diterima, walaupun hanya single shot, bukan full otomatic. Saya menganalogikan seperti itu karena ini adalah suatu proses yang tidak sekali jadi, tidak main berondongan saja seperti senapan jaman sekarang, yang semuanya serba full otomatic. Proses ini seperti seorang sniper yang mengamati dengan cermat dan memperhitungkan segala kemungkinannya, sampai pada saatnya ia akan melepaskan tembakan yang membuat targetnya klepek-klepek (kalau boleh meminjam istilahnya Ari Lasso di lagu “Rahasia Perempuan”;  sentuhlah dia tepat di hatinya, dia ‘kan jadi milikmu selamanya).



Saling Mengenal, Memahami, dan Menerima
Proses pacaran yang kami jalani, kurang lebih 3,5 tahun ini saya maknai sebagai tempat untuk belajar, untuk memahami segala karakter dan kebiasaan kami yang terkadang saling bertolak belakang. Tetapi memang demikianlah yang direncanakan Tuhan, dari berbagai perbedaan-perbedaan yang ada, jika dipadukan akan menciptakan harmonisasi luar biasa, seperti pada lagu-lagu merdu yang tersusun dari nada-nada yang berbeda. Saya cukup tahu diri, dengan pekerjaan saya, terkadang waktu waktu yang ada justru terkuras untuk pekerjaan. Dan saya berbahagia, karena pasangan saya mampu memahami keadaan ini.

Bersama Kita Melangkah
Dalam pekerjaan pula, saya berkesempatan untuk berjumpa dan berinteraksi dengan para Romo dan Frater dari kongregasi Serikat Jesus (SJ). Perjumpaan dengan para Jesuit, terlibat dalam dunia pendidikan, dan mendampingi orang-orang muda, membuat saya semakin “militan” dan selalu berjiwa muda. Dari mereka, saya mencoba untuk menghayati semangat Ignatian dengan latihan rohaninya. Sesuai dengan semangatnya, “Ad Maiorem Dei Gloriam” (demi lebih besarnya kemuliaan Tuhan), saya kembali tersadar akan tujuan manusia diciptakan, yaitu memuji, menghormati, serta mengabdi Allah Tuhan kita, dan dengan itu menyelamatkan jiwanya (Latihan Rohani 23).
Begitu juga dengan pernikahan. Pernikahan ini saya maknai sebagai sebuah proses pembentukan berkelanjutan (ongoing formation) dalam hidup saya. Saya mantap untuk memadukan perbedaan-perbedaan yang ada di dalam sebuah keluarga baru. Dan dengan pernikahan ini pula saya memilih untuk merdeka.
Dalam analogi saya, saat ini saya siap untuk mengencangkan tali pada sepasang sepatu baru yang baru saya dapatkan dan akan saya kenakan. Sepasang sepatu yang tersusun atas perbedaan kanan-kiri, yang walaupun bertolak belakang namun saling melengkapi. Dengan sepatu-sepatu tersebut kami (sekarang bukan saya lagi), memilih untuk merdeka, dan dengan mantap melangkah menuju masa depan yang penuh harapan. Karena kami yakin, Tuhan selalu mendampingi dalam setiap langkah kecil kami. Laksana sebuah kereta api, kereta kami siap melangkah menyusuri rel-rel yang tidak selamanya lurus, sering juga melalui rel yang berliku-liku. Namun kami percaya bahwa Tuhan, Sang Masinis Sejati, akan selalu bersama kami. Ad Maiorem Dei Gloriam.

Secuil Kisah di Hari Merdeka
Agnes Yusnita Marlia Suryani


Perjumpaan Pertama

Ingatan saya melambung pada 8 tahun yang lalu. Tahun 2006. Masa kuliah adalah masa- masa yang tak terlupakan oleh saya, dimana mulai belajar mandiri dan memulai awal petualangan yang baru berjumpa dengan teman- teman di FKIP UNS. Saya berjumpa dengan suami saya ini sekitar 8 tahun yang lalu karena kami kuliah agama. Waktu itu kami kebetulan satu kelompok, kesan pertama biasa saja, karena dia sangat pendiam dan ketika belum terlalu lama mengenal langsung saja mengungkapan isi hati. Saya tidak mengerti mengapa ada orang yang bisa jatuh cinta pada saat pertama kali bertemu (kayak di sinetron aja..), jawaban pasti isi hati tidak diterima, dan membuat kami saling menjauh satu sama lain. Sayapun kembali menikmati hari – hari saya menjadi mahasiswa dan meneruskan kuliah serta melakukan kegiatan- kegiatan di dalam dan di luar kampus.

Bagi saya waktu itu berpacaran hanya akan membatasi ruang gerak saya, berpetualang dan memiliki banyak teman. Saya mengikuti kegiatan seperti teater, kegiatan mahasiswa sekeuskupan, penyiar rohani, bahkan naik gunung pun pernah saya coba.



Asam Di Gunung Garam Di Laut

Tahun 2010 saya telah menyelesaikan kuliah S1 saya. Begitu asyiknya dengan kegiatan kuliah membuat saya cukup menikmati hari- hari dengan teman- teman saja. Dan pada akhirnya saya menyadari di saat wisuda ketika kebanyakan teman – teman memiliki pendamping wisuda. Sayapun ingin memiliki seseorang dalam hidup saya akhirnya saya berdoa novena untuk memohon pasangan hidup. Perjumpaan kembali setelah 4,5 tahun berlalu, waktu yang tidak singkat bukan? dan tidak ada pikiran lagi untuk menjalin hubungan dengan orang yang cintanya pernah saya tolak. 

Saat itu kami berjumpa lagi dalam dunia maya. Secara tidak sengaja waktu online kami bersamaan jadi komunikasi terjalin semakin dekat saat itu, di bulan Desember 2010, dan pada akhirnya kami resmi berpacaran pada bulan Februari 2011. Dalam perjumpaan kembali ini saya melihat ada sosok yang lain dari Mas Alex, pribadi yang lebih matang, pekerja keras dan kuat dalam menghadapi permasalahan hidup. Dan itulah yang membuat saya menerimanya.

3, 5 Tahun Manis dan Pahit
 Sosok ini adalah sosok yang keren buat saya. Jangan dilihat dari tampang karena pasti tampang orang sangar. Tapi jangan salah Mas Alex saya ini adalah seseorang yang penuh tanggung jawab berdedikasi tinggi pada pekerjaan, sabar dalam menghadapi masalah dan selalu memiliki visi ke depan. Tahun ini 3 tahun lebih 6 bulan kami berpacaran. Masa pacaran adalah masa- masa dimana kami saling mengenal, memahami dan memantapkan hati untuk menuju jenjang pernikahan.
Banyak hal yang terkadang membuat kami bertengkar. Misalnya karena kami sama- sama bekerja sehingga tekadang mengenai waktu dimana banyak waktu yang kadang lebih banyak terfokus untuk pekerjaan sehingga membuat pasangan terabaikan. Walau banyak perbedaan namun tetap banyak alasan dapat mempersatukan kami, untuk melihat perbedaan bukan dari sisi gelapnya saja namun memandang secara utuh bahwa warna gelap juga mendatangkan keindahan. Semua yang kami lalui adalah bukti cinta Tuhan pada kami sehingga pasti ada rencana-Nya indah untuk memberkati cinta kami dalam sakramen perkawinan.