Kamis, Januari 19, 2017

LIBURAN NATAL HARI 7 : FLORES, I REMEMBER


 


Sabtu, 31 Desember 2016. Walaupun hari ini kami bangun agak siang, sekitar jam 5.30 WITA, dan tidak ada misa harian pagi ini, namun sebenarnya kami sudah merasakan sebuah suasana farewell. Setelah mandi dan mengatur barang-barang bawaan yang akan kami bawa pulang kembali ke Jawa nanti, ada sedikit rasa sumedot, bahwa liburan kami akan berakhir di sini, tepat di penghujung tahun 2016 ini. Namun, bagi kami liburan ini memang sangat berkesan dan sukar dilupakan, walaupun untuk liburan ini kami harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Kesempatan tidak akan datang berulang-ulang, ketika kesempatan itu hadir di hadapan kami, saat itulah kita diajak untuk memilih dengan segala konsekuensinya. Dan kami merasa pilihan kami sudah tepat. Bahkan yang terjadi di luar yang kami bayangkan. 

Selepas sarapan pagi bersama Romo John, Romo Albert, dan Frater Paskalis, selanjutnya kami memastikan kembali barang-barang yang akan kami bawa pulang. Dan tak lupa berpamitan dengan “keluarga besar” di Bajawa, yang sudah memberikan sambutan yang luar biasa dalam liburan kami yang tidak lama ini. Kami berpamitan ke rumah keluarga Bapak Sirilus & Ibu Nancy, dan berterima kasih atas penerimaan mereka yang luar biasa, sekaligus oleh-olehnya. Juga keluarga di Paroki Santo Josef Bajawa, atas penerimaan mereka yang luar biasa dalam 5 hari liburan kami di Bajawa, mulai dari kamar, makanan, sampai ke hal-hal lain. 

Sekitar jam 08.30 WITA, kami pun begegas masuk ke mobil yang akan mengantar kami ke Bandara Soa dengan sedikit rasa ogah-ogahan alias aras-arasen. Selain merasa berat untuk meninggalkan Bajawa (sekaligus mengakhiri liburan kami…), bayangan perjalanan panjang Bajawa-Solo membuat kami sedikit gamang. Untunglah sepanjang perjalanan menuju bandara, Romo John selalu mengajak ngobrol dengan melontarkan humor-humor dan candaan yang membuat suasana menjadi sedikit lebih cair. 

Walaupun dengan perkembangan transportasi udara yang sudah semakin baik hari ini, Bajawa-Solo dapat ditempuh dalam sehari perjalanan. Namun, dari Bajawa tidak ada penerbangan langsung menuju Solo. Untuk mencapainya ada 2 pilihan, melalui jalur baru yang dibuka November 2016 (Bajawa-Kupang—Solo), atau Bajawa-Labuan Bajo-Denpasar-Solo. Berhubung kami sudah memesan tiket sebelum November 2016, dan juga akan singgah ke Labuan Bajo, maka kami memilih pilihan kedua, Bajawa-Labuan Bajo-Denpasar-Solo. Dari Bajawa pesawat akan take off sekitar jam 10.45 WITA (09.45 WIB), dan diperkirakan sampai Solo jam 19.30 WIB (20.30 WITA). Artinya, perjalanan kami ini akan menempuh jarak 1.600 kilometer, memakan waktu sekitar 10 jam perjalanan dengan 3 kali ganti pesawat, dengan maskapai yang berbeda-beda pula. Mulai dari Wings, NAM, dan Lion. Jika beberapa rekan sangat merindukan kesempatan jalan-jalan dengan naik pesawat, maka hari ini kami naik pesawat 3 hari dalam sehari (seperti orang makan atau minum obat saja..). 
 Sampai di Bandara Soa sekitar jam 09.20, suasana bandara tampak sedikit ramai. Rupanya saat itu ada keluarga dari Kapolres Ngada yang datang, mungkin akan merayakan malam tahun baru di Bajawa. Selain itu tampak juga Bupati Ngada, Marianus Sae,  yang  juga menjemput keluarganya yang (mungkin) juga akan merayakan malam tahun baru di Bajawa. Ketika melihat sosok Romo John, Pak Bupati pun menyapa, “Mari Pater…”. Maklum saja, Kantor Bupati Ngada hanya berjarak sekitar 450 meter dari Gerja Santo Josef Bajawa (dan masih merupakan wilayah penggembalaan Paroki Santo Josef..). Pak Bupati ini sempat terkenal karena sebuah tindakannya yang “kontroversial” pada tahun 2013 lalu, ketika memerintahkan  Satpol PP untuk menutup bandara Soa, karena tidak mendapatkan tiket pesawat dari Kupang ke Bajawa. Namun dari sudut pandang bupati saat itu, ia merasa dipermainkan maskapai penerbangan Merpati (yang sekarang sudah berhenti beroperasi karena masalah keuangan sejak 2014). Dan sudah menjadi pemandangan biasa saat itu, masalah penerbangan di daerah sangat beragam. Mulai dari penerbangan yang tidak tepat sesuai jadwal di tiket, pembatalan sepihak oleh maskapai, sampai penerbangan bumel (mampir-mampir untuk mencari penumpang, menurut cerita Romo John). Maka walaupun tindakan bupati bisa dibilang “kontroversial”, ketika ia mencalonkan kembali, ia tetap terpilih lagi. Rupanya tindakan tersebut tidak mengubah aspirasi masyarakat Ngada untuk memilihnya kembali. 
 Berdasarkan kisah-kisah di masa itu, maka dengan kebaikan hati Romo John, beliau bersedia untuk menemani kami sampai pesawat benar-benar take off menuju Labuan Bajo. Awalnya kami hanya meminta untuk di-drop saja di bandara, dan selanjutnya Romo John dan Romo Albert bisa kembali ke Bajawa. Namun belajar dari pengalaman tentang masalah-masalah penerbangan di daerah, Romo John tetap berpegang pada pendapatnya untuk menemani kami sampai pesawat take off. Supaya jika terjadi pembatalan penerbangan, kami tidak kebingungan untuk kembali ke Bajawa. Terima kasih Romo John untuk perhatian dan kebaikannya, namun sepertinya tidak ada masalah dalam penerbangan kami kali ini, kami merasa sangat bersyukur. Yang menjadi masalah adalah komposisi penyusunan barang di dalam ransel kami, sehingga ada satu tas yang ketika ditimbang beratnya 12 kilogram. Padahal bagasi gratis dalam penerbangan kami yang menggunakan pesawat ATR berkapasitas 72 penumpang ini hanya 10 kilogram saja. Ya mau tidak mau, daripada harus bongkar pasang tas, kami pun memilih untuk membayar charge kelebihan beban yang hanya 34 ribu rupiah, atau 17 ribu untuk setiap kilogram. 

Walaupun menunggu selama hampir 1,5 jam (karena bandara Soa termasuk sepi sehingga check in tidak memakan waktu lama), kami pun berpamitan kepada Romo John dan Romo Albert. Terima kasih atas segala kebaikan dan pengalaman selama liburan kami di Bajawa. Kami sangat bergembira, bahwa setelah 12 tahun, akhirnya kami dapat merasakan suasana Natal bersama Romo Albert yang sekarang sudah menjadi pastur dan menjalani penugasan pertamanya di Bajawa. Romo John sebagai Pastur Kepala Paroki juga menempatkan diri sebagai seorang bapak yang ngemong. Di tengah medan Bajawa yang jauh dari “zona nyaman” untuk tugas sebagai pastur paroki (dibandingkan paroki-paroki di Jawa ! ! !), kami akan selalu mendoakan mereka : Romo John, Romo Siril, dan Romo Albert dalam setiap penugasan mereka melayani umat di Bajawa. 
 Sekitar jam 11 siang, pesawat Wings Air dengan nomor penerbangan IW 1926 pun take off meninggalkan Bandara Soa-Bajawa menuju Bandara Komodo-Labuan Bajo. Pemandangan “gunung dan lembah” pun menghiasi dalam penerbangan ini. Karena lelah, saya sempat tertidur sejenak sebelum akhirnya bangun karena goncangan pesawat ATR yang cukup terasa. Mendekati Labuan Bajo, tampaklah gugusan pulau-pulau kecil yang menjadi icon dari daerah ini. Setelah putar-putar sejenak sebelum landing (waktu ini saya gunakan untuk berdoa Angelus karena waktu sudah menunjukkan jam 12 siang), akhirnya pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Komodo Labuan Bajo. Dan udara sejuk Bajawa pun harus digantikan udara menyengat khas Labuan Bajo. 
 Setelah mengambil barang-barang bawaan kami, di area kedatangan sudah menunggu kembali Icha dan Wedhy. Bersama Wedhy, saya meminjam kembali “mobil tempur” di Dermaga Philemon, untuk selanjutnya menjemput rombongan di bandara dan makan siang di Artomoro Restaurant. Di dekat sana, Om Ipin sudah menunggu dengan seragam polisi komplit. Baru kami tahu, jika di Labuan Bajo, Om Ipin (yang bernama lengkap Zainal Arifin) ini ternyata dikenal dengan nama “Revo” (bahkan di name tag seragamnya dituliskan demikian. Ketika saya tanya, apakah itu hanya sekedar nick name, ternyata tidak begitu jawabannya. Menurut budaya Sumbawa ada semacam “rumus” atau “formula” untuk menciptakan sebuah nama panggilan bagi seseorang. Kreasi nick name ini didasarkan pada nama asli orang tersebut. Menurut penjelasan Om Ipin, nama aslinya yang “Arifin” tadi jika diolah dengan “rumus” tersebut akan menjadi “Revo”. Sedangkan Papa Agus yang nama aslinya “Goes” akan menjadi “Geo”. Tapi jujur saja, karena perut sudah lapar saya tidak begitu memahami penjelasan “rumus-rumus” tersebut dan lebih memilih untuk menggasak makanan yang sudah dihidangkan. Tak lupa kopi pemberian Romo Albert pun kami bagikan kepada Wedhy dan Om Ipin. 
 Setelah makan, sementara yang lain menunggu di rumah makan, Om Ipin mengajak saya untuk mencari oleh-oleh khas Labuan Bajo. Jika di Bajawa yang khas adalah kopinya, maka di Labuan Bajo yang terkenal adalah hasil lautnya. Karena hampir mustahil membawa ikan segar dalam 2 kali perjalanan dengan pesawat terbang, maka Om Ipin pun memilihkan hasil laut yang kering, yang tidak ada di Solo. Dan akhirnya dipilihkan cumi jarum, dan kami pun dibawakan oleh-oleh ini sebanyak 2 kilogram, belum termasuk oleh-oleh yang sudah disiapkan Om Ipin kepada keluarga Papa Agus yang menjadi “bapak kedua” saat masih di Sumbawa. 
 Sepanjang perjalanan saya menangkap kesan Om Ipin adalah sosok polisi sederhana, yang mengabdikan diri untuk pelayanan masyarakat. Dalam kisahnya kepada saya sepanjang perjalanan, setelah lama ditugaskan di bagian Reserse Kriminal (Reskrim), yang notabene dekat dengan “dunia hitam kelas bawah”, beliau dipindahkan ke bagian tipikor, kali ini “dunia hitam kelas atas”. Dan sekarang ketika dipindahkan ke bagia Bimas (Pembinaan Masyarakat), beliau merasakan tugas yang paling nyaman (dan mungkin tugas yang paling dicita-citakan oleh seorang polisi, untuk mengabdi dan melayani masyarakat, walaupun “garing” karena “uangnya sedikit”). Namun dalam trip singkat ini, saya bisa menilai bagaimana beliau menikmati pekerjaannya saat ini. Interaksinya yang akrab dengan pedagang-pedagang di pasar membuat kesan polisi yang selama ini “ditakuti”, berubah 180 derajat. Bahkan di akhir percakapan, ada seorang pedagang yang memberikan “oleh-oleh” setandan pisang dengan ukuran besar (yang sudah pasti tidak akan diberikan kepada kami untuk snack di pesawat…). Wah, saya merasa Om Ipin ini sudah seperti pastur saja disini, yang selalu diperhatikan umat dan “terjamin”  (dalam arti terpenuhi kebutuhannya), walaupun tidak melulu dengan uang yang berlimpah. 

Setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih kepada Om Ipin, bersama Wedhy dan Icha kami pun melanjutkan perjalanan ke Bandara Komodo. Karena terlalu asyik menikmati Labuan Bajo dengan makanan dan keramahannya, jadilah ketika kami sampai di bandara waktunya sudah sangat mepet, waktu sudah menunjukkan jam 14.45, sementara pesawat dijadwalkan take off jam 15.25. Setelah berpamitan kepada Icha dan Wedhy, kami pun segera masuk ke terminal keberangkatan. Benar saja, kami menjadi penumpang yang terakhir check in untuk penerbangan Labuan Bajo – Denpasar ini. 

Selesai check in dan masuk  ke ruang tunggu, tak sampai 15 menit kemudian kami sudah diperkenankan untuk boarding menuju pesawat. Akhirnya sekitar jam 15.25, pesawat NAM Air dengan nomer penerbangan IN 0665 tujuan Labuan Bajo – Denpasar pun akhirnya take off meninggalkan Bandara Komodo menuju Bandara Ngurah Rai. Dalam perjalanan yang berdurasi sekitar satu jam tersebut, karena terlalu kenyang, kami pun tertidur, sampai-sampai snack yang diberikan pramugari tidak kami sentuh sama sekali (apalagi menyentuh mbak pramugarinya, bisa berabe….). kami terbangun ketika Pulau Bali dengan Jalan Tol Bali Mandira sudah tampak dari jendela. Dan sekitar pukul 16.30 pesawat landing  di Bandara Ngurah Rai Bali dengan selamat. 
 Perjalanan kami berikutnya masih jam 18.00 WITA, masih sekitar 1,5 jam lagi. Karena kelelahan, setelah mengambil barang-barang bawaan, saya terkapar alias ngglethak di sebuah kursi kayu panjang di dekat belt pengambilan bagasi. Kurang lebih jam 17.00 kami meninggalkan terminal kedatangan, untuk mampir sebentar membeli minuman dingin (cuaca panas Labuan Bajo dan Denpasar memang membuat bawaannya minum minuman yang dingin…), dan melanjutkan dengan berjalan kaki menuju terminal keberangkatan. Saat pemeriksaan, saya terlupa jika botol minuman masih saya kantongi di saku celana. Ketika diperiksa oleh petugas Avsec (Aviation Security) yang orang Bali asli, dengan nada sopan ia mengatakan “tholong botholnya dikeluarkan”, tentunya dengan logat Bali yang kental. Saya hanya tersenyum mesum, karena mendengar logatnya. Untung yang diminta dikeluargan adalah bothol minuman dingin, dan bukan bothol yang lain (yang juga ada di celana ! ! !). 
 Ketika chek in di counter Lion Air untuk semua tujuan, tiba-tiba ada rombongan berjaket yang menyerobot antrian kami. Walaupun sempat sedikit emosi, namun akhirnya kami memahami ke-ndeso-an atau ke-kampungan-an rombongan ini. Dengan jumlah puluhan (lengkap dengan belanjaan yang bejibun), berjaket seragam, dan berlogat Sunda yang kental mereka menyerobot antrian kami. Saya yang mulai menguasai diri, mencoba “meneror” mereka dengan menabrakkan trolley saya ke trolley mereka. Sampai akhirnya oleh petugas counter rombongan ini dipisahkan dan diletakkan dalam barisan tersendiri. Petugas counter juga bingung. Padahal pesawat mereka berangkat 30 menit lagi, sementara masih ada puluhan orang dan barang yang belum check in
  Setelah selesai check in, dalam perjalanan menuju ruang tunggu, kami pun bertemu kembali dengan rombongan “kadieu” ini (kami menyebutnya begitu, karena dalam percakapan mereka kami menangkap banyak kata “kadieu” dalam Bahasa Sunda yang berarti “kemari”). Sepanjang jalan menuju ruang tunggu kami tertawa, menertawakan kepanikan mereka (ternyata kesusahan orang lain bisa membawa kebahagiaan bagi orang lain juga ! ! !). Dan ketika sampai ruang tunggu, sudah seperti pasar malam aja. Ratusan manusia berkumpul untuk diterbangkan di akhir tahun ! ! !. 
 Tak lama menunggu, perjalanan kami menuju solo pun dimulai. Waktu sudah menunjukkan jam 19.00 WITA (18.00 WIB). Lampu-lampu di sekitar Bandara Ngurah Rai sudah dinyalakan. Dan pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 0925 akhirnya membawa kami dari Bandara Ngurah Rai menuju Bandara Adi Sumarmo. Perjalanan kurang lebih 1 jam 20 menit tidak dapat kami nikmati karena cuaca sudah mulai malam. ketika mulai mendekati Solo, sempat terjadi hujan yang deras, dan dari halo-halo diumumkan bahwa penerbangan sedang berada dalam cuaca yang kurang baik (yang membuat beberapa penumpang menjadi panik). 

Akhirnya hujan pun reda, dan Kota Solo, kota kelahiran saya, sudah mulai tampak dengan kelap-kelipnya. Akhirnya sekitar jam 19.20 WIB, pesawat pun landing  di Bandara Adi Sumarmo dengan mulus. Setelah mengambil barang-barang bawaan, kami menuju ke pintu keluar, untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan ke rumah di daerah Palur dengan taxi. Dan akhirnya kami pun sampai di Palur sekitar jam 20.30. 
 Dalam perjalanan Bandara-Palur, tak lupa kami memberitakan kabar kami sambil mengucapkan terima kasih kepada semua yang sudah membantu kami menikmati liburan ini. Romo John, Romo Albert, Icha, Wedhy, dan Om Ipin, serta semua saja yang sudah membantu banyak. Dan di penghujung tahun 2016 sekaligus awal tahun 2017, saya (seperti biasa) tidak memilih merayakannya dengan pesta dan hura-hura. Bersama istri, sekitar jam setengah 12 malam, kami bergegas menuju Taman Doa Alfa-Omega yang terletak di Kompleks Gereja Santa Maria Diangkat ke Surga, Paroki Palur, kampung halaman saya. Saya mengisi pergantian tahun ini dengan rasa syukur atas semua berkat, rejeki, pengalaman suka maupun duka selama tahun 2016. Sambil berharap di tahun 2017 ini semuanya dapat menjadi lebih baik. 
 Tulisan ini merupakan penutup kisah liburan saya yang saya tuliskan untuk 7 hari liburan yang berkesan ini. Kesan kami tentang Flores yang luar biasa, memberikan pengalaman, pencerahan sekaligus pemahaman yang baru. Dan itu semua boleh kami banggakan, khususnya ketika kami bisa membagikannya melalui cerita-cerita ataupun tulisan di blog ini. 

Dalam memoarnya, Ben Mboi (Gubernur NTT tahun 1978-1988) mengutip sebuah buku yang berjudul “I Remember Flores” karya Kapten Tasuku Sato. Tasuku Sato sendiri merupakan Kapten dalam Angkatan Laut Jepang pada masa penjajahan Jepang di Indonesia (1942-1945). Pada masa pasifikasi itu, wilayah Indonesia yang dikuasai Jepang dibagi menjadi 2 bagian, dikuasai oleh Angkatan Darat (Rikugun) dan Angkatan Laut (Kaigun). Daerah Jawa, Madura, Sumatra, dan Semenanjung Melayu merupakan daerah kekuasaan AD (Rikugun). Sedangkan daerah Kalimantan, Sulawesi, Sunda Kecil (sekarang Nusa Tenggara), Maluku, dan Papua dikuasai oleh AL (Kaigun) dengan pusatnya di Makassar.
 Perlu dipahami juga, bahwa pada masa itu Kaigun merupakan Angkatan Laut yang paling kuat di dunia, dengan persenjataan terbesar dan termodern di kawasan Samudra Pasifik. Sebagai orang yang mengalami masa pendudukan Jepang di Flores, Ben Mboi merasakan penempatan pasukan Jepang yang banyak, kuat, sekaligus lengkap persenjataannya di Flores. Apa yang dirasakan Ben Mboi ini ternyata konfirm dengan penuturan Tasuku Sato. Bahwa memang benar, selama pendudukan Jepang atas Indonesia, Kaigun menempatkan pasukan terbanyak, terkuat, dan terlengkap persenjataannya di Flores, hanya di Flores (perlu digarisbawahi). Hal ini dimaksudkan untuk menjaga “stabilitas masyarakat”, khususnya jika ada pergolakan atau pemberontakan dari kalangan masyarakat Flores. Namun setelah ditelusuri, dijalani, dan dirasakan oleh Tasuko Sato sendiri, kesimpulannya adalah semua ini berasal dari Kabar Intelejen Jepang yang tidak akurat. 

Menurut Sato, sebenarnya yang disampaikan oleh intelejen Jepang tersebut bukan tanpa alasan. Pada abad pertengahan, dalam pandangan orang Jepang, golongan Katolik dianggap sebagai golongan yang radikal. Semenjak agama Katolik dibawa masuk ke Jepang oleh seorang Jesuit, Fransiscus Xavierius, banyak orang Jepang yang menjadi Katolik kemudian menjadi orang yang radikal (dalam pandangan Penguasa Jepang). Karena dianggap dapat mengancam kesatuan Jepang, muncullah gerakan Shimabara yang bertujuan untuk menghancurkan agama Katolik. Namun saat itu orang Jepang yang sudah menjadi Katolik memilih mati demi iman mereka. Salah satu contohnya adalah kisah tentang Paulus Miki (lagi-lagi seorang Jesuit ! ! !) bersama teman-temannya. Penyiksaan yang mereka alami tidak membuat mereka meninggalkan imannya. Akhirnya mereka pun dibunuh dengan cara yang digunakan untuk membunuh Yesus sendiri, yakni dengan disalib, di sebuah bukit di pinggir kota Nagasaki. 

Dari pengalaman-pengalaman itulah Kaigun menempatkan kekuatan terbaiknya hanya di Flores. Karena mereka mencurigai agama Katolik menjadi penghalang terbesar mereka. Apalagi 90 persen penduduk Flores beragama Katolik. Itulah hipotesis mereka saat itu ! ! !

Namun ternyata apa yang dijumpai Sato berbeda 180 derajat dengan laporan intelejen. Di Flores ia menjumpai masyarakat yang ramah, bersahabat, tidak berjiwa pemberontak, dan mempunyai kemampuan musikalitas diatas rata-rata. Ia pun menyadari, harusnya ia datang ke Flores sebagai pelancong, bukan sebagai serdadu. Dan setelah menjumpai kenyataan ini, ketika kembali ke Jepang setelah dibebaskan Sekutu tahun 1947, ia memutuskan menjadi Katolik. Buku “I Remember Flores” menjadi sebuah memoar yang menjadi titik balik dalam hidupnya. 

Walaupun kami hanya 6 hari menikmati liburan di Flores, namun memoar Tasuku Sato tersebut seolah confirm dengan apa yang kami jumpai dan kami rasakan dalam liburan singkat ini. Finally, I Remember Flores

.
Saat kusadari, ternyata semuanya terasa sangat bermakna
Salam
 

Wong Sangar

Rabu, Januari 18, 2017

LIBURAN NATAL HARI 6 : FLORES, TRACING THE FOOTSTEPS






Jumat, 30 Desember 2016. Waktu liburan terasa berjalan sangat cepat. Tanpa terasa kami sudah 4 hari di Bajawa, sebuah kota yang dingin. Wajar saja, dengan ketinggian sekitar 1.100 meter dari permukaan laut (dpl), cuaca yang kami rasakan pasti sangat dingin, dibandingkan daerah Solo pada umumnya (sebagai referensi, Stasiun Solo Balapan,Stasiun Solo Jebres dan Stasiun Palur yang paling dekat dari rumah saya ketinggiannya hanya 93 meter dpl). Daerah Bajawa ini dinginnya mungkin seperti daerah Tawangmangu (dari rumah hanya sekitar 1 jam perjalanan naik kendaraan), atau Baturaden (tempat retret saya di Bulan Agustus 2016 kemarin), hanya angin di pagi hari yang berhembus kencang membuatnya semakin dingin. Dan setelah 4 hari tinggal di Bajawa, kami pun sudah terbiasa dengan cuacanya, bahkan terbiasa mandi pagi dengan air dingin. 

Rutinitas kami setiap pagi disini adalah mengikuti Misa harian yang dimulai jam 05.30 WITA. Kebetulan pada tanggal ini, menurut tradisi Gereja Katolik, adalah Pesta Keluarga Kudus ; Yesus, Maria, dan Yosef. Dan di Gereja Santo Josef ini kami kembali diajak untuk merenungkan peran Santo Yosef (di Jawa sering disebut Yusuf…) dalam Karya Penyelamatan Tuhan, khususnya di awal-awal kelahiran Yesus. Misa kali ini tetap dirayakan dengan konselebrasi dengan Selebran Utama Romo Sirilus Pay OCD, dan Konselebran Romo Albert Indra OCD. Sekali lagi lagu “Santo Yosef yang menjaga…” menjadi lagu penutup, dalam “misa penutup” saya di Bajawa kali ini (maklum saja, besok kami sudah pulang dan tidak ada misa pagi karena misa dipindahkan ke sore hari….).  Pastor Kepala Paroki Santo Yosef, Romo John Preta OCD tidak ikut dalam misa karena akan merayakan misa bersama Pasien di RSUD Bajawa. Setelah misa, kami bersama para suster dan para pastor berkesempatan untuk foto-foto sejenak, agar dapat menjadi sekedar kenang-kenangan bahwa kami sudah pernah ke Bajawa (halah…). 
 Sekitar jam 10-an, Romo Albert mengajak kami jalan-jalan. Setelah sarapan tadi, bersama Romo John, Romo Albert melayani umat yang merayakan misa di RSUD Bajawa. Jangan bayangkan RSUD di sini seperti RSUD di Jawa, karena di Jawa hampir semua RSUD itu termasuk “Tipe B”, atau bahkan “Tipe A” (berdasarkan luas areal dan kapasitasnya). RSUD Bajawa ini jika di Jawa mungkin termasuk Rumah Sakit “Tipe C” yang luasnya tak lebih dari sebuah klinik atau sebuah RS swasta yang tidak terlalu besar. Namun untuk apa dibanding-bandingkan, toh jumlah penduduk di Bajawa juga tidak sepadat di Jawa yang tumplek bleg, yang membuat Jawa yang padat menjadi semakin sumpek

Berhubung di daerah Bajawa (atau Flores pada umumnya) mayoritas penduduknya beragama Katolik, maka kaum “Pemuka Agama Katolik” seperti para pastor dan suster juga terlibat banyak di dalam “pengabdian masyarakat”, tidak melulu hanya di “altar” tetapi juga sampai “pasar”. Para suter FMM selain berkarya dalam bidang pendidikan juga terlibat dalam karya kesehatan dengan membuka klinik. Sedangkan dari para imam OCD juga terlibat dalam karya kesehatan, khususnya pelayanan kepada para pasien di Rumah Sakit. Secara kebetulan, RSUD Bajawa ini jaraknya sangat dekat dengan Gereja Santo Josef. Sehingga masih termasuk dalam reksa pastoral  (wilayah penggembalaan) Paroki Santo Josef Bajawa. Jarak RS ini dari gereja hanya sekitar 100 meter saja. Dan menurut cerita dari Romo John, setiap minggunya rutin diadakan pelayanan rohani untuk para pasien di RS. 

Mengenai kisah “pelayanan” bagi mereka yang sakit, khususnya di kalangan masyarakat Flores, ada beberapa kisah yang “seram” sekaligus “jenaka”. Dalam sebuah kesempatan Romo John pernah bercerita tentang seorang umat yang datang ke pastoran dan memohon pastor untuk mengirimkan komuni bagi keluarganya yang sakit di rumah. Di sini asisten imam atau prodiakon seperti yang lazim di daerah Jawa tidak berlaku,ora payu, sehingga semua pelayanan rohani dilayani oleh para “kaum berjubah”. Ketika Romo John datang dan sampai di rumah “Si Pasien”, tampak Si Pasien sehat-sehat saja. Ketika ditanya mengapa tidak ke gereja dan minta dikirim komuni ke rumah, jawabannya sederhana, “Perut saya kembung Pater…”. 

Begitu juga kisah Romo Albert yang dibangunkan pukul 12 malam oleh seseorang agar memberikan Sakramen Pengurapan Orang Sakit atau “Minyak Suci”. Sakramen Minyak Suci (menurut  tata bahasa Jawa) adalah sebuah ritual dalam Agama Katolik kepada orang yang sedang sakit, sebagai pengampunan sekaligus “bekal perjalanan” jika sewaktu-waktu pasien ini wafat. Bahkan dalam tradisi barat, upacara ini hanya diberikan kepada mereka yang berada dalam sakratul maut. Dari penjelasan ini bisa dipahami ketika Romo Albert dibangunkan jam 12 malam, dalam benaknya pasti pasien ini ada dalam “kondisi gawat” dan membutuhkan pelayanan rohani sesegera mungkin. Setelah mempersiapkan segala peralatan dan bergegas menuju Rumah Sakit, didapati pasien yang terkapar karena kecelakaan lalu lintas. Setelah memberikan Sakramen Minyak Suci, Romo Albert menanyakan kepada keluarganya mengapa Si Pasien bisa mengalami kecelakaan. Jawabannya ternyata membuat perasaan campur aduk, antara marah, kasihan, prihatin, sekaligus tertawa. Ternyata pasien itu mengalami kecelakaan karena terlalu banyak minum sehingga mabuk, dan tetap memaksakan diri naik motor. Akhirnya ia terlibat dalam kecelakaan tunggal dan akhirnya terkapar di Rumah Sakit. 

Rupanya pengalaman-pengalaman melayani masyarakat yang “unik” ini juga mirip dengan pengalaman yang pernah dialami oleh Ben Mboi dalam memoarnya. Ben Mboi sendiri bukanlah seorang pastur. Ben Mboi adalah seorang dokter. Setelah menjadi dokter, ia kemudian dengan suka rela menggabungkan diri menjadi tentara dan ikut terjun di belantara Papua tahun 1962 dalam Operasi Trikora. Sampai akhirnya Ben Mboi menjadi Gubernur NTT selama 10 tahun, dari 1978-1988. Pada tahun 1964, Ben Mboi menjadi Dokabu (Dokter Kabupaten) di daerah Ende, Flores. Pada masa itu (52 tahun yang lalu..), belum banyak dokter yang bertugas di Flores, maka kebanyakan dokter yang bertugas harus siap on call, jika sewaktu-waktu ada pasien yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Suatu malam, Ben Mboi dibangunkan karena ada seorang pasien yang harus dioperasi sesegera mungkin. Ketika masuk kamar bedah, ia mendapati pasien tersebut tergorok lehernya, namun masih hidup, hanya tidak bisa berbicara karena pita suaranya putus. Setelah dijahit, orang itu pun bisa bersuara kembali. Ketika Ben Mboi bertanya mengapa bisa terjadi seperti ini, jawabannya ternyata cukup membuat perasaan campur aduk (seperti yang dialami Romo John dan Romo Albert tadi…). Pasien tersebut rupanya bermaksud bunuh diri dengan menggorok lehernya, namun sayangnya tidak mati ! ! !
 Dalam memoarnya, Ben Mboi menuliskan dari sudut pandang dirinya sebagai Orang Flores. Dalam memoarnya ia menuliskan, terhadap Orang Flores, Anda harus berbicara dan bersikap dengan lurus, tegas, sekaligus lugas. Jangan terlalu banyak berbasa-basi atau menggunakan kiasan-kiasan seperti cara berkomunikasi Orang Jawa pada umumnya. Jika Anda menggunakan cara berkomunikasi “gaya Jawa” kepada Orang Flores, hampir dipastikan mereka tidak memahami maksud Anda, dan ketika melakukannya pasti tidak sesuai dengan yang diharapkan. 

Begitu juga dengan penanganan-penanganan yang dilakukan Romo John dan Romo Albert untuk mengatasi sekaligus mendidik umat dalam pelayanan mereka. Dalam pelayanan komuni kepada orang sakit, Romo John mempersyaratkan bahwa mereka harus benar-benar sakit, setidaknya dibuktikan dengan terbaring di ranjang dan tidak dapat berjalan sendiri. Sedangkan Romo Albert dalam pelayanan Sakramen Minyak Suci, mencoba meminta klarifikasi tentang “asal-usul” atau “kronologi” penyakit yang diderita Si Pasien sehingga membutuhkan pelayanan tersebut. Namun apapun alasannya, mereka berdua tetap melakukan tugasnya dalam melayani umat. Hanya agar umat semakin terdidik dan tidak “manja”, mereka terkadang mendidik dengan sedikit “marah-marah” ketika ada ketidaksesuaian yang dijumpai. Begitu juga dengan pengalaman Ben Mboi ketika menemui pasien “gagal bunuh diri”. Paginya ia mendatangi pasien tersebut dengan membawa pisau dan batu asah. Kepadanya dijelaskan cara mengasah pisau yang benar sekaligus bagian-bagian yang mematikan jika ditusuk. Sehingga ketika ia bunuh diri, setidaknya ia tidak merepotkan dokter dan perawat yang jumlahnya terbatas tersebut. Ketika mendengar penjelasannya, Si Pasien tersebut langsung berkata “Minta ampun bapa dokter…”. 

Namun begitulah, ada peribahasa “lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya”. Bagi Orang Flores, lebih baik diberi nasehat dalam bentuk “marah-marah” daripada diberi nasehat dalam bentuk sindiran, seperti yang banyak dilakukan Orang Jawa (ngomong sedikit tapi nylekit…). Bagi mereka ada 2 kemungkinan jika diberi nasehat dalam bentuk sindiran. Pertama, mereka mungkin tidak paham yang dimaksudkan. Kedua mereka mungkin paham, namun akan sakit hati. Bagi mereka mungkin lebih baik ditusuk badannya daripada ditusuk hatinya. Dan dari pengalaman-pengalaman yang diceritakan ini saya belajar tentang sebuah habit, sebuah kebiasaan yang sangat kaya dari sebuah negeri yang bernama Indonesia. Bahwa dalam perbedaan-perbedaan tersebut ada hal-hal yang menyatukan, dan hal itu adalah kemanusiaan. 

Kembali ke kisah liburan kami, setelah membantu melayani pasien di RSUD Bajawa, Romo Albert ternyata mencarikan oleh-oleh untuk kami bawa pulang besok. Dan yang khas dari Bajawa adalah kopinya. Maka Romo Albert mencarikan kopi Bajawa sampai ke daerah Mangulewa, di Paroki “tetangga” (Paroki Matris Dolorosae). Daerah Mangulewa sendiri merupakan daerah yang di sekelilingnya banyak teradapat kebun kopi dan tempat pengolahan kopi. Dan jumlahnya cukup banyak (untuk dihabiskan sendiri). Namun semuanya tidak akan kami habiskan sendiri. Selain tidak mau, tentunya juga tidak kuat (walaupun Kopi Bajawa terkenal nikmat, kami tidak akan menghabiskan sendiri kopi yang jumlahnya 7 kilogram tersebut…). Maka kopi tersebut rencananya memang akan dibagi-bagikan bagi saudara atau kenalan di Jawa. 

Tujuan kami yang pertama ini adalah Susteran OCD di Bajawa. Sayang, ketika kami kesana ternyata waktu untuk bejumpa (rekreasi) sudah mepet. Jadi akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kami, dan akan kembali ke sini nanti sore saja. Perjalanan selanjutnya adalah menapaki kembali jejak-jejak kekatolikan di Bajawa. Jika di Muntilan dikenal sebagai “Betlehem van Java”, maka daerah ini bisa jadi adalah “Betlehem van Bajawa”. Karena di tempat inilah karya-karya kekatolikan tumbuh di kalangan Orang Flores, dan secara khusus Bajawa (walaupun letaknya sebenarnya di luar kota Bajawa). Dan tempat tersebut bernama Mataloko. 
 Mataloko sendiri sebenarnya adalah nama sebuah desa di Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, NTT. Daerah ini sebenarnya terletak di luar kota, sekitar 16 kilometer dari Kota Bajawa. Di daerah ini terkenal dengan Seminari Yohanes Berchmans yang sering disebut Seminari Mataloko. Kebiasaan di Indonesia memang lebih menempatkan nama suatu daerah terhadap sebuah institusi, seperti halnya Seminari Mertoyudan yang lebih terkenal daripada nama aslinya, Seminari Petrus Canisius. Menurut penuturan Romo Albert, daerah Mataloko merupakan awal sekaligus pusat misi Katolik di Ngada pada masa lampau. Di daerah ini terdapat beberapa kompleks yang menjadi “identitas” kekatolikan di sini. Mulai dari Gereja Katolik Paroki Roh Kudus, Seminari Yohanes Berchmans, dan Rumah Retret Kemah Tabor. 
 Menurut buku 150 tahun Serikat Jesus di Indonesia (2009), daerah Flores merupakan daerah terakhir yang “ditinggalkan” oleh para Jesuit sebelum mereka memutuskan untuk memusatkan karyanya di Jawa pada tahun 1913-1914. Dan setelahnya, “estafet” karya ini diserahkan kepada para iman dari Societas Verbi Divini (SVD / Serikat Sabda Allah). Selanjutnya, karya misi Katolik di hampir seluruh Flores dilanjutkan oleh para imam SVD ini. Dari nama pelindung seminari, Yohanes Berchmans (yang adalah seorang Jesuit), bisa dipahami bahwa dulunya tempat ini dirintis oleh Para Jesuit. Bangunan Kemah Tabor sendiri didirikan pada tahun 1932. Dulunya tempat ini merupakan tempat tinggal para imam SVD di Mataloko. Karena pada masa itu, belum ada bangunan berlantai 2 di Mataloko, dan Kemah Tabor merupakan yang pertama, maka dulu bangunan ini dikenal dengan nama “Rumah Tinggi”. 
 Kunjungan yang “numpang lewat” di Mataloko bagi saya juga seperti melacak jejak kekatolikan yang dirintis para Jesuit di Tanah Flores. Bahwa sekarang mereka tidak berkarya lagi disana, dan memusatkan karyanya di Jawa (dan bisa dibilang saya juga dilibatkan dalam karya ini, karena saya juga bekerja di lembaga milik Jesuit..), namun sisa-sisa peninggalannya tetap terasa, mulai dari bangunan-bangunan sampai keramahan masyarakat Flores. Siangnya kami diminta untuk makan siang di rumah Keluarga Bapak Sirilus-Ibu Nancy (tentunya ada minum moke….). Dan sepulangnya kami dapat tidur nyenyak di siang hari, di dinginnya Kota Bajawa. 

Sorenya, kami melanjutkan jalan-jalan yang tertunda ke Susteran OCD Bajawa. Berhubung mobil pastoran akan digunakan Romo Siril untuk “mudik” dan merayakan Reba di rumahnya, di daerah Jerebuu, Kami memutuskan untuk boncengan dengan 2 motor, sekaligus pamitan kepada Romo Siril, karena beliau baru pulang besok siang (sementara kami pulang besok pagi). Dari pastoran ke susteran berjalan lancar (karena memang lalu lintas yang sepi…), dan kami sampai di sana sekitar jam 4 sore. 
 Kesan pertama di Susteran OCD Bajawa ini adalah kesan hening. Menurut Romo Albert, para suster OCD hidup dan tinggal dalam biara kontemplatif dan tertutup (clausura). Karya mereka bukanlah kerasulan aktif seperti pendidikan dan kesehatan, melainkan kerasulan kontemplatif atau kerasulan doa. Maka bisa dikatakan bahwa mereka adalah pertapa di jaman modern. Jika pertapa laki-laki biasa disebut rahib, maka para pertapa perempuan ini juga sering disebut rubiah. Selain OCD, ada juga suster dari OCSO atau trappist yang menjalani kerasulan doa. 

Kesan hening dan tenag langsung terasa ketika memasuki biara ini. Di tempat ini, tidak sembarang orang bisa bercakap-cakap dengan leluasa dengan para rubiah tersebut. Bagi orang yang ingin menyampaikan intensi atau permohonan mereka akan mendatangi sebuah “loket”. Di “loket” tersebut ada rubiah yang bertugas “piket” untuk menerima intensi tersebut. Di “loket” ini juga ada tulisan “O Kesepian yang Mengagumkan”, yang menunjukkan cara hidup mereka. Intensi atau permohonan tersebut nantinya akan didoakan bersama oleh seluruh komunitas. Tidak ada jaminan 100% bahwa semua intensi yang didoakan di sini akan terkabul. Bagi mereka yang merasa intensinya dikabulkan, mereka akan memberi “ucapan terima kasih”. Ucapan terima kasih yang berbentuk uang biasanya diserahkan kepada “suster piket”. Namun jika ucapan terima kasihnya berbentuk barang, biasanya hanya diletakkan begitu saja di pelataran “loket” tersebut. Menurut cerita Romo Albert, biasa disana diletakkan pisang, sayur, hasil bumi, dan bahkan material bangunan seperti semen, kayu, dll sebagai ucapan terima kasih. 
 Berhubung kami masih kerabat Romo Albert (yang sama-sama anggota “keluarga besar” mereka dalam keluarga Karmel..), maka kami mendapatkan “akses” untuk berjumpa dan beraudiensi dengan para rubiah tersebut. Ketika masuk ke bangunan yang lebih dalam, terasa sekali kesan bangunan tua. Menurut Romo Albert, para suster OCD datang ke Indonesia tahun 1939 di Lembang, Bandung. Ketika Jepang datang, para suster ini ditahan atau diinternir oleh Jepang. Biara mereka dijadikan asrama tentara dan polisi (sangat lazim terjadi pada masa pendudukan Jepang..). Setelah Indonesia merdeka mereka dibebaskan, namun tidak ada kejelasan kapan mereka kembali ke Lembang. Pada tahun 1953, oleh Uskup Ende saat itu, Mgr. Thijssen SVD, mereka diminta untuk berkarya di Flores, dan mereka memilih tinggal di kota dingin Bajawa sampai saat ini. 
Ketika pintu masuk untuk beraudensi dengan para rubiah ini dibuka, ternyata status kami sebagai kerabat seorang pastor Karmelit tidak cukup “sakti”. Dalam audensi tersebut, antara para rubiah dan non rubiah dipisahkan oleh sebuah meja panjang sebagai “batas suci”. Jadi ketika kami ngobrol-ngobrol, kesannya seperti di bar saja, antara orang yang mau minum-minum dengan bartendernya. Topik obrolan kami pun ngalor-ngidul, mulai dari cerita suster pimpinan yang akan merenovasi bangunan ini, karena sejak tahun 1953 sampai sekarang (63 tahun) belum ada renovasi besar yang dilakukan. Namun bagi saya bangunan tua selalu menarik, karena dibaliknya ada cerita, ada kisah perjuangan, ada suka duka, dan ada kekuatan, selain unsur estetika yang luar biasa. Bandingkan dengan bangunan sekarang yang jika ditiup oleh siulan saja bisa jadi akan runtuh (karena terlalu banyak dikorupsi….). Selain itu ada juga perbedaan kerudung para suster junior dan para suster senior. Bagi mereka yang masih junior kerudungnya berwarna putih, sedangkan yang senior berwarna gelap (antara coklat dan hitam). 
 Dari susteran, kami melanjutkan perjalanan kami ke Novisiat Bogenga. Tujuan kami kesini sebenarnya akan pamitan, karena besok kami akan kembali ke Jawa. Semua anggota komunitas di novisiat yang ada saat itu kami pamiti, mulai dari pastor sampai frater. Bahkan Grace, monyet peliharaan disana pun kami pamiti. 
 Seorang ibu karyawati di Novisiat memberikan oleh-oleh bagi kami. Jangan dilihat bentuknya yang berupa sekantong kacang tanah mentah. Namun, kami sangat terkesan dengan pemberiannya, apalagi kacang Bajawa ukurannya memang luar biasa dari sisi ukuran, dan bisa dibayangkan jika dimasak rasanya pasti akan sangat enak dan maat tenan. Bagi orang kebanyakan, kacang tanah mentah mungkin harganya tidak seberapa. Namun bagi kami, pemberian yang tulus tersebut meninggalkan kesan tersendiri, tentang keramahan Flores, dari pulaunya, tanahnya, sampai penduduknya. 

Malamnya, saat makan malam Romo John menanyakan kembali tentang rencana kepulangan kami, besok pesawat berangkat jam berapa, sehingga beliau bisa memperkirakan kapan waktu yang tepat untuk berangkat menuju Bandara Soa yang jaraknya 30 km dari Bajawa. Mendengar pertanyaan tersebut, sebenarnya berat bagi kami untuk menjawabnya, karena memang jujur saja, berat sekali untuk meninggalkan Flores dengan segala keramahannya yang meninggalkan banyak kesan. Dan malamnya, kami menutup kami dengan doa di katakombe, bahwa kami bersyukur boleh merasakan keramahan Flores, dan semoga dalam perjalanan kami pulang besok tidak ada masalah di perjalanan.
.
Saat kusadari, ternyata semuanya terasa sangat bermakna
Salam










  


Wong Sangar