Senin, Agustus 31, 2015

Be Not Afraid (Tiga Sisi dalam Satu Pribadi)


       Dalam peristiwa di kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada 2 Sisi atau 2 Dimensi yang sangat bertolak belakang. Dari 2 Sisi tersebut kemudian menimbulkan polarisasi atau dikotomi, yang membuat pertentangan yang muncul semakin jelas. Contohnya : baik-buruk, hitam-putih, sipil-militer, aksi-reaksi, dll. Jarang sekali dimunculkan sisi atau dimensi yang ketiga. Seandainya pun muncul sisi yang ketiga itu, hasilnya adalah legitimasi salah satu sisi untuk menginjak-injak sisi yang lain. Seperti halnya konsep dwifungsi ABRI pada jaman Suharto, yang malah mengerdilkan peranan masyarakat sipil, karena hampir semua aspek dikuasai oleh militer. 

          Pengalaman saya mengikuti retret kali ini juga kurang lebih sama, menimbulkan rasa bingung yang begitu hebat. Buku pengantar “Kembalinya Si Anak Hilang” karya Henry Nouwen membuat saya semakin bingung karena kalimatnya terlalu “mendayu-dayu”, menjelaskan berulang-ulang lukisan karya Rembrandt sebagai inspirasi. Jujur saja saya bingung, karena saya tidak mengenal siapa itu Henry Nouwen dan siapa itu Rembrandt. Jika ada pastor diosesan yang menulis buku, saya lebih mengagumi Romo Mangun. Jika ada pelukis hebat, saya lebih mengenal Raden Saleh atau Affandi. Maka ketika sebagai prolog diharuskan membaca buku dan mengamati lukisan, yang saya gugat adalah mengapa harus mengambil sumber dari orang asing, mengapa tidak mengambil dari sumber-sumber di sekitar kita saja. 



          Tapi setelah membaca prolog buku yang cukup menjemukan (menurut saya), isi di dalamnya ternyata sangat mengasyikkan, walaupun saya belum nyambung dengan tujuan retret kali ini. Begitu pula ketika melihat lukisan Rembrandt, ternyata sangat menarik, karena banyak simbol-simbol dalam lukisan itu yang dapat dipahami jika kita mau merenung lebih dalam, bukan melihat sepintas saja. Konsep tentang Si Bungsu, Si Sulung, dan Si Bapa dijelaskan dengan (sangat) detail, sehingga mengajak kita seolah-olah merasakan apa yang dirasakan oleh 3 sosok tersebut. 

          Saya kebetulan mendapat tempat retret di Susteran Muntilan, sebuah tempat dengan sejarah Katolik yang cukup kental di tanah Jawa. Ada perasaan sedikit minder, karena saya termasuk peserta retret debutan. Teman-teman yang lain sudah pernah mengikutinya tahun kemarin, dengan rekan-rekan yang sama. Sehingga anggap saja ini sebagai sebuah reunian. Namun bagi saya, malah justru timbul rasa minder, karena hampir semua pesertanya tidak saya kenal. Bahkan 2 pembimbingnya, Romo Winandoko SJ dan Romo Teguh Santosa SJ juga tidak saya kenal sebelumnya. Maka jujur saja, saya berangkat dengan perasaan gamang (awang-awangen) sekaligus antusias untuk mengikuti retret ini, karena saya penasaran dengan efek yang (katanya) memberikan sebuah pencerahan. 




Ketika retret dimulai, buku tersebut kemudian dirangkum dalam sebuah buku pegangan retret yang berwarna merah marun dengan judul “Tiga Sisi dalam Satu Pribadi”. Dan dalam retret yang berlangsung selama 5 hari ini, 3 hari penuh akan digunakan untuk merenungkan ketiga sisi tersebut. 2 hari yang lain digunakan untuk prolog dan epilog. Tapi pada intinya, referensi yang digunakan adalah perumpamaan tentang anak yang hilang, seperti tertulis dalam Injil Lukas 15 : 11-32, dan lukisan Rembrandt yang menjadi visualisasi kisah tersebut. 

          Pada hari kedua, atau permenungan pertama tentang anak bungsu, saya diajak merenungkan diri, mengambil posisi sebagai Si Anak Bungsu. Ada saatnya saya diajak merenung sebagai anak bungsu yang hilang. Sebagai anak yang hilang, Si Bungsu melakukan sebuah penolakan yang radikal. Meminta warisan saat bapaknya masih hidup berarti mengharapkan kematian Si Bapak. Tidak hanya itu, kemudian ia menjualnya dan menggunakannya untuk berfoya-foya di negeri yang jauh. Artinya ia menyangkal identitasnya, membiarkan dirinya tuli terhadap bisikan cinta. Mencari cinta di tempat yang jauh, dan hasilnya tidak mendapatkan apa-apa.  Cerita itu kemudian membawa saya mengingat kembali saat-saat saya menjadi Si Bungsu yang hilang. Tentang orang tua dimana kita tidak bisa memilih. Tentang keadaan orang tua yang tidak seperti yang saya harapkan. Tentang keinginan-keinginan saya yang tidak selalu dituruti orang tua,  membuat saya memberontak dan memilih menjadi Si Bungsu yang minggat. 

          Saat merenungkan kembalinya Si Bungsu yang jatuh miskin, kehilangan kekayaannya (digambarkan dengan kepala yang gundul, pakaian compang-camping, dan sepatu butut), namun akhirnya bertobat dan memutuskan kembali kepada bapaknya. Peristiwa ini membawa saya kepada pengalaman akan rasa menyesal terhadap eksistensi orang tua saya. Mengapa saya baru tersadar akan segala dosa dan kesalahan saya ketika justru kedua orang tua saya sudah meninggal. Mengapa saya baru menginginkan kebersamaan saya dengan orang tua saya (yang justru dulu sering saya tolak), ketika saya menjadi anak yatim piatu di usia 19 tahun. Namun dari semuanya itu akhirnya saya mampu untuk berdamai dengan kedua orang tua saya. Dalam data identitas, ijazah, bahkan sampai undangan perinikahan saya, tetap dicantumkan nama orang tua saya (yang dulu pernah saya sakiti). Saya masih bisa diajak bersyukur bahwa di luar sana masih banyak “anak-anak bungsu” yang tidak mengakui keberadaan orang tuanya. Walaupun sebenarnya mereka tahu, orang tua adalah orang yang dipilih Tuhan sebagai sarana kehadiran kita ke dunia. Ketika kita sudah berhasil, tak jarang kita melupakan mereka. 

          Dalam retret hari berikutnya, topik yang dibahas adalah tentang Si Sulung. Ada gambaran yang radikal tentang Si Sulung ini. Dalam Injil Lukas digambarkan bahwa Si Sulung adalah seorang yang taat pada bapaknya. Ketika Si Bungsu datang dan dipestakan besar-besaran, Si Sulung tidak terima dan marah. Bagi saya awalnya, tidak ada yang salah dengan Si Sulung. Justru itulah hal yang sangat manusiawi. Jika saya ada dalam posisi seperti itu, saya rasa saya juga akan melakukannya. 



          Tetapi disinilah hebatnya para Jesuit pembimbing (dengan tambahan hadirnya Fr. Juprianto SJ di hari ketiga). Mereka mampu memutarbalikkan logika saya tentang Si Sulung ini. Si Sulung digambarkan sebagai anak hilang juga, karena walaupun secara fisik dia selalu ada di rumah bersama bapaknya, tetapi jiwanya tidak merdeka. Ketika adiknya pulang, ia adalah pengamat utama, dan dalam mengamati ia mengambil jarak. Dalam lukisan Rembrandt digambarkan ia berdiri dengan tangan terlipat, wajah murung (tidak tersenyum), walaupun pakaiannya sama seperti yang dikenakan oleh Bapaknya yang menyambut Si Bungsu dengan sukacita. 

          Secara sederhana, disimpulkan juga Si Sulung sebagai anak yang hilang. Si Sulung tidak hilang dalam artian minggat  dari rumah, tetapi hilang dalam rasa iri hati. Rasa iri hatinya inilah yang membuat dirinya menikmati hidup tanpa kegembiraan. Apapun yang dilakukannya hanyalah sebagai bentuk formalitas tanpa passion. Sehingga ketika adiknya kembali, rasa iri hati inilah yang menutup rasa syukurnya, sehingga ia memilih untuk hidup tanpa kegembiraan. 

          Permenungan ini kemudian membawa saya kepada pengalaman-pengalaman saya. Bahwa dalam banyak hal, sayalah Si Sulung ini. Saya adalah orang yang cenderung penurut, taat, patuh, dan sangat disiplin. Namun dalam segala hal itu, tidak semua cita-cita saya tercapai. Ketika ada orang lain yang kualitasnya di bawah saya (tentu saja dilihat dari prespektif saya…) yang berhasil, yang timbul adalah rasa iri akan keberhasilan orang tersebut. Dari rasa iri tersebut, beberapa sudah dapat saya damaikan, dan beberapa masih saya bawa, sampai retret ini berjalan. Permenungan itu membawa saya pada pertanyaan Quo Vadis, kemana kamu akan pergi? 

          Dalam Injil Lukas memang tidak digambarkan akhir dari kisah kembalinya Si Anak Hilang itu, sehingga kisah itupun tetap menimbulkan pertanyaan yang masih terbuka (sekaligus menggantung) sampai sekarang. Para Jesuit pendamping retret ini tetap meyakinkan saya bahwa akan selalu ada kemungkinan bertobat bagi Si Sulung (yang gue banget ini…). Namun bentuknya tentu tidak harus seperti Si Bungsu yang meminta haknya kemudian menjualnya, dan baru bertobat setelah melarat. Tidak baik membalas kejahatan dengan kejahatan, karena kamu sebenarnya telah melakukan hal yang lebih jahat. Namun pertobatan yang ideal (kata ideal berarti sebenarnya bisa dilakukan, tetapi sulit…), adalah dengan cara membiarkan segala persaingan menyingkir. Dengan membiarkan persaingan menyingkir, secara otomatis hilanglah rasa iri hati dan digantikan dengan rasa syukur, sehingga terbangunlah sebuah kepercayaan. 

Memilih untuk bersyukur dan percaya membutuhkan suatu lompatan iman. Lompatan iman berarti selalu mengasihi tanpa mengharap dicintai, memberi tanpa mengharap diberi, mengundang tanpa berharap diundang, dan memegang tanpa mengharap dipegang. Sebuah kalimat yang enak dibaca tetapi angel dilakoni. Namun Ignatius sudah memberi contoh, berilah cinta dan rahmat-Mu, cukup itu bagiku (LR 234). Maka ketika diberi kesempatan untuk mengaku dosa bersama Romo Koko, saya hanya mengakukan satu hal saja dosa saya yang masih ngganjel, yaitu rasa iri hati yang masih saya bawa sampai retret ini. Bahkan lebih gila lagi, “Si Bungsu” yang saya membuat saya iri hati ini berada sangat-sangat dekat dengan saya. Namun pada akhirnya, setelah saya mengaku dosa, saya memilih untuk berdamai, mencabut dan membuang rasa iri yang sudah menjadi koreng ( dan mungkin hampir menjadi borok …) di dalam hati saya. 

Santo Yusup yang menjadi pelindung di Gereja Ambarawa, yang juga terkenal dengan nama Gereja Jago, menjadi panutan. Yusup dan Jago adalah 2 konsep yang sangat bertolak belakang. Yusup digambarkan sebagai pria yang nrimo, tidak banyak membantah, dan bahkan sangat penurut, sampai-sampai ia menuruti wisik (bisikan) dalam mimpinya. Tidak pernah ada rasa iri pada diri Yusup. Sementara, sosok jago sangat kental kesan maskulinnya. Bahkan tidak takut untuk bertarung sampai mati jika ada yang mengancam dirinya. Bagi sebagian orang Yusup dapat dianggap sebagai “jago gadungan” karena tidak tampak tanda-tanda maskulin dalam sikapnya. Namun bagi saya Yusup adalah ”jago sejati”, karena melalui tokoh sederhana yang sering dilupakan (bahkan dalam Doa Syukur Agung…), karya penyelamatan hadir dalam dunia. 

Hari berikutnya adalah saat dimana saya diajak untuk menjadi sosok Sang Bapak. Sebuah hal yang sangat sentimental dan emosional, karena saat itu kebetulan adalah ulang tahun Bapak saya. Seandainya beliau masih hidup, hari ini adalah ulang tahunnya ke 56. Dalam renungan pagi, Fr. Jupri mengajak untuk menghadirkan pribadi-pribadi yang dicintai. Dan kesempatan itu saya gunakan untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada bapak saya. 

Sang Bapak dalam arti yang lebih luas bisa diterjemahkan sebagai ayah dan ibu. Secara tidak sengaja, di depan kamar saya, tempat saya merenungkan peristiwa sebagai Si Sulung dan Si Bungsu, terdapat patung seekor kambing bertanduk yang sedang berhadapan dengan 2 ekor kambing tidak bertanduk. Saya menerjemahkan bahwa Si Kambing Bertanduk ini adalah Si Bapak, dan dua yang lain adalah si anak. Ketika saya berdoa pagi, pada tempat yang berbeda saya melihat patung induk ayam dan 2 anaknya. Dari 2 pengalaman itu, saya menerjemahkan diri sebagai sebuah ajakan bagi saya untuk menjadi “Sang Bapak”. 

Peristiwa kembalinya Si Anak Hilang menjadi kembalinya manusia ke rahim Allah-kembali ke asal-usulnya. Bagi Allah, tidak ada kata lebih atau kurang, karena cintanya yang besar kepada anak-anak-Nya. Pertanyaannya kemudian dibalik, bukan “bagaimana saya menemukan Allah”, namun menjadi “bagaimana saya ditemukan oleh Allah”. Bukan “bagaimana saya mencintai Allah” melainkan “bagaimana saya membiarkan diri dicintai oleh Allah”. Cinta Allah bagi kita adalah cinta pertama dan untuk selama-lamanya. 

Si Bapak dalam kisah ini digambarkan sebagai bapak yang baik. Sebagai bapak yang baik, pasti memberikan yang terbaik pula bagi anak-anaknya. Dalam kisah dibuktikan dengan menyembelih anak lembu tambun, memberikan pakaian dan sepatu yang terbaik, dan memberikan cincin. Dalam pesta itu Si Bungsu dan Si Sulung (ya kita-kita ini….) diundang untuk bergembira. Bapak itu mengajari saya untuk memilih terang saat kegelapan terasa sangat menakutkan. Memilih kebenaran ketika dikelilingi kebohongan. Memilih kegembiraan ketika merasakan penderitaan. Dan dengan itu semua, kehidupan diubah menjadi perayaan pesta.



Kebenaran dan sukacita tidak pernah menyangkal kesedihan, tetapi mengubahnya menjadi tanah yang subur untuk sukacita yang berlimpah. Orang-orang sinis selalu melihat kegelapan dan menyebut kepercayaan sebagai sebuah romantisme dan pelarian emosional. Namun dengan semakin memperkecil sukacita Allah, kegelapan mereka akan semakin kelam. Dan pada akhirnya Si Sulung dan Si Bungsu diajak menjadi seorang bapak yang dari mereka akan muncul sepasang tangan yang mengampuni, menghibur, menyembuhkan, dan menawarkan pesta. 

Namun, untuk menjadi Bapa yang berbelas kasih tidaklah mudah. Mereka yang bersedia harus mau menjalani 3 langkah yang sulit, yaitu dukacita, pengampunan, dan kebaikan hati. Dan melalui 3 langkah itulah memungkinkan kebapaan muncul di dalam diri. Kebapaan yang penuh kekosongan karena tidak ada kekuasaan dan popularitas, namun juga tidak ada rasa malu dan kecemasan. 

Dan menjelang retret berakhir kami mendapatkan kesempatan untuk menyusuri jejak sejarah Kekatolikan di tanah Jawa, di Betlehem van Java ini. Sebuah kunjungan sentimental saat datang ke SMA Van Lith. Pada masa awal sekolah ini adalah “Kolese Xavierius”, namun seiring berkembangnya waktu sekarang sudah dikelola oleh “Pangudi Luhur”. Maka kunjungan ini seolah seperti bertemunya keturunan Kerajaan Mataram yang terpecah menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Selain itu sebuah film India tentang kisah anak penderita dyslexia semakin memantapkan retret ini. 





Sepulang retret, pengalaman dan hati yang masih berkobar-kobar ini kemudian dibagikan kepada keluarga. Keesokan harinya, ketika saya membawa motor Kyai Ageng Bondosudo  (yang secara harafiah berarti “modal yang menyusut”, sebuah plesetan dari keris kesayangan Pangeran Diponegoro yang bernama Kyai Ageng Bondoyudho  yang berarti “modal bertempur”), ke bengkel untuk dicek kondisinya, ketahuanlah kondisinya saat ini. Motor saya ternyata sudah bobrok. Mulai dari rantai, rem, lampu, dan panel-panel kelistrikan oleh mekaniknya dikatakan “sudah tidak layak”. Seperti dalam bacaan Injil beberapa hari kemarin, motor saya seperti kuburan, dari luar tampak bersih, tetapi di dalamnya penuh kebusukan. Atau seperti tai kucing alias tai yang sopan (dalam Novel Burung-Burung Manyar), karena kebusukan tertutup oleh pasir yang menyelimutinya. Artinya mobilitas saya selama ini dengan motor saya itu murni mengandalkan skill  saya. Karena saya bisa tetap selamat walaupun menggunakan motor yang bobrok, hehehe…

Namun demikian, walaupun Si Motor mengajak saya untuk duc in altum (karena saya harus merogoh kocek saya lebih dalam, pas tanggal tua pula…), sebagai Bapak yang baik saya berusaha tetap memberikan yang terbaik. Ketika Mas Mekanik menawarkan untuk perbaikan bertahap, bulan ini dan bulan depan. Saya langsung menolak. Saya langsung ngomong bahwa tidak ada tawar menawar atau kompromi untuk keselamatan. Saat harus berjalan ke ATM (karena duit di dompet sudah pasti tidak cukup…), saya baru merenungkan bahwa untuk karya keselamatan memang setidaknya tidak boleh ditawar-tawar. Maka dalam injil tentang upah 1 dirham per hari kepada pekerja yang sepakat, tidak seharusnya menimbulkan rasa iri hati, karena konteks yang dimaksudkan adalah tentang keselamatan. 

Kisah tentang Sang Bapak dan Anak-Anak yang hilang adalah kisah tentang kasih sayang yang mendewasakan. Kasih yang mendewasakan tidak memberikan paksaan, namun memberi kemerdekaan, kekuatan, sekaligus perlindungan. Seperti dalam syair lagu Be Not Afraid  berikut ini:
Be not afraid, I go before you always
Come follow me, and I will give you rest.

Begitulah cerita tentang pengalaman retret saya, dari wajah yang GARANG (galak), namun dengan jiwa yang GARING (kering), saya diajak untuk menjadi GERANG  (dewasa). Dan pada akhirnya, walaupun saya memilih menjadi GERING (kurus /kecil/minoritas) tak apalah, asal saya tidak menjadi GARONG (maling).




Saat kusadari ternyata semuanya terasa sangat bermakna…


Salam


Wong Sangar

Senin, Mei 18, 2015

Sahabat dalam Tuhan





Hidup itu memang dinamis. Mungkin memang begitulah kenyataannya. Ada masanya kita merasakan ada di masa jaya, dan ada waktunya juga kita merasa di masa susah. Datangnya pun seringkali beruntung. Keberhasilan datang terus-terusan, untuk selanjutnya digantikan dengan kegagalan yang bertubi-tubi. Dari pengalaman itu kita diajak untuk “siap gagal” ketika keberuntungan datang, dan “siap beruntung” ketika kegagalan datang. 
          Begitu jugalah pengalaman pribadi saya kurang lebih satu tahun belakangan. Dari prestasi yang gemilang, berubah kelam secara mendadak. Dari sisi jasmani, mungkin hal ini membuat “galau”, karena saya terbiasa sitematis, eksekusi, dan semua beres. Namun di sisi lain, ada sebuah hiburan rohani alias konsolasi, dimana jiwa saya mengalami gerak batin sehingga mengobarkan hati untuk semakin mencintai Tuhan (halah…). Setidaknya, bagi saya sendiri, saya masih bisa merasa bangga karena hati nurani saya belum mati. Ketika melihat keadaan yang semakin sontoloyo,  saya masih bisa tegas untuk melawan. Baik secara frontal maupun secara cerdas, seperti yang dilakukan Warkop dalam bentuk sindiran. 
Kata sontoloyo sendiri berasal dari profesi penggembala bebek. Dalam menjalankan profesinya, seorang penggembala bebek mempunyai tugas untuk mengendalikan perjalanan bebek, supaya tetap pada barisan dan utuh, tidak ada satu pun yang tercecer. Fenomena jama sekarang banyak menunjukkan hal itu. Setidaknya Presiden Indonesia pun berhasil melakukannya, berhasil mengubah budaya ABS (Asal Bapak Senang) menjadi budaya AIS (Asal Ibu Senang). Walaupun ibu yang dimaksud disini masih multitafsir (dalam pikiran positif, kita berharap ibu tersebut adalah ibu pertiwi Indonesia, hahahahah…..). 
Kembali ke sontoloyo. Fenomena jaman sekarang di segala lini pun kurang lebih sama. Banyak orang yang memilih menjadi bebek, begitu pula pemimpinnya, memilih menjadi sontoloyo. Kata sontoloyo menjadi bermakna negatif, karena dalam prakteknya, Si Penggembala alias sontoloyo tadi menggerakkan tangan kirinya untuk membelokkan barisan bebek ke kanan, dan sebaliknya menggerakkan tangan kanannya untuk membelokkan bebek ke kiri. Sontoloyo menjadi simbol untuk orang yang munafik, yang pikiran, perkataan, dan perbuatannya tidak sinkron (dari contoh menggerakkan tangan kanan untuk belok kiri). Sedangkan bebek menjadi simbol bagi orang yang berkoar-koar namun tetap menjadi follower, tidak bisa berpikir kritis dan menggunakan hati nuraninya. Mereka tau perbuatan yang dilakukannya salah, tapi tetap melakukannya. Ndak papa, toh orang lain juga melakukannya. Itu baru salah kalau sudah terbukti  alias konangan, mungkin begitulah yang ada di benak mereka. 
Fenomena ini pula yang menggerakkan saya, dan akhirnya saya mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Bulan Mei dan Oktober bagi umat Katolik merupakan bulan yang khusus, saat mereka mengkhususkan diri untuk menghormati Kandjeng Ibu Maria (perlu digarisbawahi, menghormati di sini tidak berarti menyembah, karena hanya Tuhan yang patut disembah, halah…). Kebiasaan itu pulalah yang mengerakkan saya untuk melakukan peziarahan, secara khusus untuk menghormati Kandjeng Ibu Maria. 
Saya sendiri sebenarnya sebenarnya merencanakan 2 alternatif tujuan : Sendangsono, dan Ambarawa. Bagi saya sendiri, 2 tempat tersebut menjadi menarik karena nilai historisnya sangat kuat. Dan itu juga yang menjadi interest saya, berziarah tidak hanya sekedar menjadi ritus, tetapi menjadi sarana untuk belajar dari nilai-nilai historisnya. Sendangsono menjadi spesial karena di tempat itulah cikal bakal umat Katolik dari kaum Jawa (yang sebelumnya disebut kaum inlander..) tumbuh subur dan berkembang. Ambarawa menjadi spesial juga karena di daerah itu sempat menjadi neraka bagi tentara Inggris yang menang perang dunia II, saat mereka digempur oleh pasukan Sudirman dan kawan-kawan (yang notabene hanya mantan guru…) saat melintas dari Semarang menuju Magelang. Ambarawa menjadi simbol perlawanan kaum lemah melawan kaum yang sok-sokan  berkuasa. 

Karena kali ini saya melakukan peziarahan bersama istri saya tercinta, maka Ambawara lah yang dipilih. Alasannya sederhana saja, karena akses menuju Ambarawa dengan angkutan umum lebih mudah dibandingkan akses menuju Sendangsono. Selain itu Ambarawa letaknya lebih terbuka, berbeda dengan Sendangsono yang jauh dari keramaian. Hal ini menjadi penting karena jika melakukan perjalanan bersama istri pasti lebih ribet daripada melakukan perjalanan sendiri. Alasan lain juga yang menguatkan adalah dengan dibukanya kembali museum kereta api di Ambawara. Kami ingin merasakan ”numpak sepur kuno”  mejelajahi perjalanan Ambarawa-Tuntang melewati Rawa Pening. 



Dari berbagai informasi yang saya kumpulkan secara “googling” akhirnya saya mendapatkan penginapan yang cukup terjangkau, di penginapan “Blue Mary” , di rumah keluarga Bp. Martinus Suhadi. Untuk kebutuhan transportasi selama di Ambarawa, istri saya memberanikan diri untuk “nembung” ke rumah orang tua teman, Mahatma Chryshna, yang juga di Ambarawa. Dari pengalaman-pengalaman ini saya menemukan “Sahabat dalam Tuhan” yang akhirnya saya jadikan judul tulisan saya kali ini. Bahwa dalam peristiwa kali ini, saya menemukan sahabat-sahabat dalam Tuhan, yang akhirnya menjadikan perjalanan kami tidak hanya lebih mudah, tetapi juga lebih bermakna. Keluarga Bp/Ibu Martinus Suhadi ternyata juga relasi dari keluarga Mas Ganang, yang membuat kami tidak seperti tamu yang memesan penginapan, tetapi malah seperti keponakan yang berkunjung ke rumah paman. Begitu juga ketika mengunjungi keluarga Mas Ganang untuk meminjam motor, obrolan-obrolan ringan dengan Pak Narto (Bapak Mas Ganang) membuat saya merasa menjadi mahasiswa kembali, yang mendengarkan ceramah dari professor. Singkat, berisi, dan tidak ada unsure ngapusi, karena semua yang disampaikan dapat ditangkap dengan mudah oleh logika saya yang sebenarnya pas-pasan ini…

Tak lupa pula sebelum ke Ambarawa kami berdua mampir ke Giri Sonta, untuk mengunjungi makam Para Sahabat-Sahabat dalam Tuhan yang sudah mendahului kami. Secara khusus nyekar ke makam Romo Hardjasudarma SJ, yang meresmikan pernikahan Almarhum Bapak dan Almarhumah Ibu saya. 


Romo Almering SJ yang sudah membaptis saya dan meresmikan saya menjadi anggota Gereja Katolik (dan sampai saat ini masih resmi tercatat, hahahaha…..), 


sekaligus Romo Casutt SJ yang menjadi inspirasi, sosok mercusuar dan batu karang yang kuat dalam mempertahankan prinsip dan hati nurani. 





Dan saat di Ambarawa, kami menjalani tirakat dengan berjalan ke arah Gua Maria Kerep menjelang tengah malam, membawa segala suka duka kami berdua untuk disampaikan kepada Kandjeng Ibu Maria, untuk selanjutnya mohon kekuatan karena pada dasarnya kami adalah mahkluk yang lemah, menghadapi dunia yang semakin sontoloyo ini. 

Dan pada keesokan harinya, untuk semakin memaknai perjalanan yang berkesan ini, kami mengikuti perayaan Ekaristi di Gereja Santo Yusup Ambarawa, atau yang lebih dikenal dengan nama Gereja Jago. Gereja ini juga yang menjadi saksi bisu peristiwa Palagan Ambarawa, dan tetap berdiri tegak sampai hari ini. Dan rangkaian liburan kali ini ditutup dengan perjalanan dengan kereta wisata Ambarawa-Tuntang yang mengesankan. Dan tentunya dari perjalanan liburan kali ini, pengalaman yang paling mengesankan adalah boleh berjumpa dan mengunjungi Sahabat-Sahabat dalam Tuhan.



saat kusadari ternyata semuanya terasa sangat bermakna
Salam


















Wong Sangar

Jumat, Agustus 15, 2014

Memilih untuk Merdeka (sebuah memoar)





Prolog: 
 Bulan Agustus merupakan bulan yang istimewa bagi saya, karena selain ulang tahun saya yang “kebetulan” jatuh di bulan tersebut, dalam bulan ini juga terdapat perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Setiap tahun saya selalu menyempatkan diri untuk membuat tulisan yang bertemakan kemerdekaan. Dan khusus tahun ini pula, pada tanggal 17 Agustus 2014, tepat di hari kemerdekaan Republik Indonesia, saya “memilih untuk merdeka” dengan melangsungkan kehidupan saya selanjutnya dalam fase pernikahan. Dengan berbagai pertimbangan, saya tidak sempat mengundang beberapa rekan untuk menghadiri acara pernikahan saya. Kali ini saya bagikan sedikit memoar saya. Semoga bermanfaat


Memilih untuk Merdeka
Alexander Arief Rahadian Nugroho Warsito

Masa Kecil
Terlahir dari keluarga sederhana dan cenderung pas-pasan justru menjadikan masa kecil saya menjadi istimewa (paling tidak menurut yang saya rasakan sekarang!). Dengan tidak selalu terpenuhinya apa yang saya minta di masa kecil saya, justru membuat saya belajar terlatih untuk nrimo alias menerima keadaan. Dari realitas yang saya terima itulah saya diajak untuk menemukan hidayah, menemukan pesan Tuhan yang pasti baik untuk diri saya, tetapi tidak selalu baik dari “kacamata” manusia saya, yang penuh dengan keterbatasan ini.
Oleh kedua orang tua, almarhum Indro Saryono dan almarhumah Anna Yhuhatin Nugroho Warsito, saya tidak diberi kelimpahan materi (materi dari mana, wong untuk hidup saja sudah pas-pasan...). Saya bersyukur, bahwa saya masih mendapatkan kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang layak. Walaupun hidup kami susah, tetapi orang tua tetap mengupayakan untuk mendapatkan pendidikan yang layak bagi anak-anaknya. Terutama untuk ibu (karena bapak sudah meninggalkan kami sejak saya berumur 15 tahun), yang direwangi ngutang sana-sini untuk biaya pendidikan yang tidak murah ini.

Pendidikan Mengantar ke Sebuah Perjumpaan
Almarhumah  Ibu juga yang “berjasa” untuk menyekolahkan saya sampai tingkat perguruan tinggi. Hebatnya, ibu “menyekolahkan” saya ke universitas setelah beliau meninggal dunia. Boleh percaya atau tidak, dengan dana santunan kematian dan tunjangannya, duit  tersebut saya gunakan untuk kuliah dan melanjutkan pendidikan saya. Tujuan saya hanya satu, dengan pendidikan yang lebih baik, saya berharap dapat meningkatkan taraf hidup saya, dari yang dibawah garis kemiskinan sampai apes-apesnya tepat di garis kemiskinan (yang artinya sebenarnya sederhana saja,  tetap sama-sama miskin, tetapii paling tidak sudah lebih mendingan...)
Kesempatan untuk kuliah di universitas negeri di tahun 2006, dimana orang Katolik adalah kaum minoritas, mempertemukan saya dengan istri saya sekarang. Kami satu angkatan, satu fakultas, tetapi berbeda jurusan dan program studinya. Berhubung kami adalah bagian dari kaum minoritas tadi, untuk mengikuti kuliah Agama Katolik “terpaksa ngungsi” di Wisma Mahasiswa Surakarta. Dari semenjak pertama kali bertemu, sudah ada gejolak di dalam diri, tetapi saya tidak berani untuk mengungkapkan. Saya lihat responnya (saat itu) juga negatif (menurut saya). Dan benar saja, ketika saya ungkapkan perasaan saya, jawabannya adalah penolakan. Mungkin karena sudah terbiasa keinginannya tidak dapat dipenuhi, maka saya hanya nrimo saja.

Penemuan Kembali Harapan yang Pernah Hilang
Tetapi seperti yang dituliskan dalam Kitab Suci, bahwa apa yang dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia. Setelah sekian lama lost contact, kurang lebih 4,5 tahun, kami dipertemukan kembali di penghujung tahun 2010. Saat itu dia sudah lulus dan diwisuda sebagai sarjana, sementara saya masih berkutat dengan skripsi dan baru akan memulai penelitian skripsi saya. Akhirnya pada 11 Februari 2011 (secara kebetulan tanggalnya unik, 1102-2011), tembakan saya kali ini diterima, walaupun hanya single shot, bukan full otomatic. Saya menganalogikan seperti itu karena ini adalah suatu proses yang tidak sekali jadi, tidak main berondongan saja seperti senapan jaman sekarang, yang semuanya serba full otomatic. Proses ini seperti seorang sniper yang mengamati dengan cermat dan memperhitungkan segala kemungkinannya, sampai pada saatnya ia akan melepaskan tembakan yang membuat targetnya klepek-klepek (kalau boleh meminjam istilahnya Ari Lasso di lagu “Rahasia Perempuan”;  sentuhlah dia tepat di hatinya, dia ‘kan jadi milikmu selamanya).



Saling Mengenal, Memahami, dan Menerima
Proses pacaran yang kami jalani, kurang lebih 3,5 tahun ini saya maknai sebagai tempat untuk belajar, untuk memahami segala karakter dan kebiasaan kami yang terkadang saling bertolak belakang. Tetapi memang demikianlah yang direncanakan Tuhan, dari berbagai perbedaan-perbedaan yang ada, jika dipadukan akan menciptakan harmonisasi luar biasa, seperti pada lagu-lagu merdu yang tersusun dari nada-nada yang berbeda. Saya cukup tahu diri, dengan pekerjaan saya, terkadang waktu waktu yang ada justru terkuras untuk pekerjaan. Dan saya berbahagia, karena pasangan saya mampu memahami keadaan ini.

Bersama Kita Melangkah
Dalam pekerjaan pula, saya berkesempatan untuk berjumpa dan berinteraksi dengan para Romo dan Frater dari kongregasi Serikat Jesus (SJ). Perjumpaan dengan para Jesuit, terlibat dalam dunia pendidikan, dan mendampingi orang-orang muda, membuat saya semakin “militan” dan selalu berjiwa muda. Dari mereka, saya mencoba untuk menghayati semangat Ignatian dengan latihan rohaninya. Sesuai dengan semangatnya, “Ad Maiorem Dei Gloriam” (demi lebih besarnya kemuliaan Tuhan), saya kembali tersadar akan tujuan manusia diciptakan, yaitu memuji, menghormati, serta mengabdi Allah Tuhan kita, dan dengan itu menyelamatkan jiwanya (Latihan Rohani 23).
Begitu juga dengan pernikahan. Pernikahan ini saya maknai sebagai sebuah proses pembentukan berkelanjutan (ongoing formation) dalam hidup saya. Saya mantap untuk memadukan perbedaan-perbedaan yang ada di dalam sebuah keluarga baru. Dan dengan pernikahan ini pula saya memilih untuk merdeka.
Dalam analogi saya, saat ini saya siap untuk mengencangkan tali pada sepasang sepatu baru yang baru saya dapatkan dan akan saya kenakan. Sepasang sepatu yang tersusun atas perbedaan kanan-kiri, yang walaupun bertolak belakang namun saling melengkapi. Dengan sepatu-sepatu tersebut kami (sekarang bukan saya lagi), memilih untuk merdeka, dan dengan mantap melangkah menuju masa depan yang penuh harapan. Karena kami yakin, Tuhan selalu mendampingi dalam setiap langkah kecil kami. Laksana sebuah kereta api, kereta kami siap melangkah menyusuri rel-rel yang tidak selamanya lurus, sering juga melalui rel yang berliku-liku. Namun kami percaya bahwa Tuhan, Sang Masinis Sejati, akan selalu bersama kami. Ad Maiorem Dei Gloriam.

Secuil Kisah di Hari Merdeka
Agnes Yusnita Marlia Suryani


Perjumpaan Pertama

Ingatan saya melambung pada 8 tahun yang lalu. Tahun 2006. Masa kuliah adalah masa- masa yang tak terlupakan oleh saya, dimana mulai belajar mandiri dan memulai awal petualangan yang baru berjumpa dengan teman- teman di FKIP UNS. Saya berjumpa dengan suami saya ini sekitar 8 tahun yang lalu karena kami kuliah agama. Waktu itu kami kebetulan satu kelompok, kesan pertama biasa saja, karena dia sangat pendiam dan ketika belum terlalu lama mengenal langsung saja mengungkapan isi hati. Saya tidak mengerti mengapa ada orang yang bisa jatuh cinta pada saat pertama kali bertemu (kayak di sinetron aja..), jawaban pasti isi hati tidak diterima, dan membuat kami saling menjauh satu sama lain. Sayapun kembali menikmati hari – hari saya menjadi mahasiswa dan meneruskan kuliah serta melakukan kegiatan- kegiatan di dalam dan di luar kampus.

Bagi saya waktu itu berpacaran hanya akan membatasi ruang gerak saya, berpetualang dan memiliki banyak teman. Saya mengikuti kegiatan seperti teater, kegiatan mahasiswa sekeuskupan, penyiar rohani, bahkan naik gunung pun pernah saya coba.



Asam Di Gunung Garam Di Laut

Tahun 2010 saya telah menyelesaikan kuliah S1 saya. Begitu asyiknya dengan kegiatan kuliah membuat saya cukup menikmati hari- hari dengan teman- teman saja. Dan pada akhirnya saya menyadari di saat wisuda ketika kebanyakan teman – teman memiliki pendamping wisuda. Sayapun ingin memiliki seseorang dalam hidup saya akhirnya saya berdoa novena untuk memohon pasangan hidup. Perjumpaan kembali setelah 4,5 tahun berlalu, waktu yang tidak singkat bukan? dan tidak ada pikiran lagi untuk menjalin hubungan dengan orang yang cintanya pernah saya tolak. 

Saat itu kami berjumpa lagi dalam dunia maya. Secara tidak sengaja waktu online kami bersamaan jadi komunikasi terjalin semakin dekat saat itu, di bulan Desember 2010, dan pada akhirnya kami resmi berpacaran pada bulan Februari 2011. Dalam perjumpaan kembali ini saya melihat ada sosok yang lain dari Mas Alex, pribadi yang lebih matang, pekerja keras dan kuat dalam menghadapi permasalahan hidup. Dan itulah yang membuat saya menerimanya.

3, 5 Tahun Manis dan Pahit
 Sosok ini adalah sosok yang keren buat saya. Jangan dilihat dari tampang karena pasti tampang orang sangar. Tapi jangan salah Mas Alex saya ini adalah seseorang yang penuh tanggung jawab berdedikasi tinggi pada pekerjaan, sabar dalam menghadapi masalah dan selalu memiliki visi ke depan. Tahun ini 3 tahun lebih 6 bulan kami berpacaran. Masa pacaran adalah masa- masa dimana kami saling mengenal, memahami dan memantapkan hati untuk menuju jenjang pernikahan.
Banyak hal yang terkadang membuat kami bertengkar. Misalnya karena kami sama- sama bekerja sehingga tekadang mengenai waktu dimana banyak waktu yang kadang lebih banyak terfokus untuk pekerjaan sehingga membuat pasangan terabaikan. Walau banyak perbedaan namun tetap banyak alasan dapat mempersatukan kami, untuk melihat perbedaan bukan dari sisi gelapnya saja namun memandang secara utuh bahwa warna gelap juga mendatangkan keindahan. Semua yang kami lalui adalah bukti cinta Tuhan pada kami sehingga pasti ada rencana-Nya indah untuk memberkati cinta kami dalam sakramen perkawinan.